Gas Lighting, Wah... Memanipulasi Diri Secara Psikologis Yang Berefek... Apa Hayo??!

Tentu Class sudah tidak asing dengan apa itu manipulasi. Hal ini termasuk ke dalam salah satu perilaku tidak terpuji yang sudah seharusnya dihindari. Mungkin di awal Class masih bisa tenang-tenang saja setelah melakukan tindakan tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, semua pasti akan terbongkar.

Meskipun jadi hal yang sudah sering dibahas, tapi pada kenyataannya masih banyak orang yang sering melakukan tindakan manipulasi, termasuk pada dirinya sendiri. Tidak jarang mereka melakukannya secara sadar bahkan sudah menjadi suatu kebiasaan.

Pernah dengar tentang gaslighting? Ini adalah bentuk manipulasi psikologi yang wajib Class waspadai mulai saat ini, karena dapat mengganggu tingkat ‘kewarasan’ diri sendiri. Istilah gaslighting bermula dari suatu drama Inggris berjudul “Gas Light”, di mana seorang suami berusaha ‘memainkan’ istrinya dengan berbagai tipuan untuk mempertanyakan pandangan dan kewarasannya.

Atas dasar itu, dapat diartikan bahwa gaslighting adalah bentuk pelecehan emosional di mana pelakunya memanipulasi situasi secara berulang. Pelaku tindakan ini akan menipu korbannya supaya tidak percaya dengan ingatan maupun persepsi akan dirinya sendiri. Gaslighting membuat korban mempertanyakan akan insting yang selama ini dipercayai. Korban juga akan menjadi mudah percaya terhadap omongan pelaku gaslighting.

Kegiatan memanipulasi atau gaslighting tak hanya terjadi dalam sebuah hubungan antara kita dengan orang lain saja. Bisa juga kegiatan memanipulasi dilakukan oleh kita terhadap diri kita sendiri atau disebut dengan self gaslighting.

Kegiatan memanipulasi tentunya merupakan salah satu tindakan toxic behaviour. Apalagi memanipulasi diri sendiri. Mencoba untuk menyangkal semua keinginan diri. Self gaslighting biasanya  secara tidak langsung akan memberikan dampak yang negatif terhadap diri sendiri. Self gaslighting biasanya tumbuh ketika seseorang melakukan gaslighting kepada kita, yang membuat kita akhirnya memanipulasi diri sendiri.

“Self gaslighting terjadi ketika kamu mempertanyakan atau meragukan emosi kamu sendiri. Kondisi tersebut biasanya terjadi ketika orang lain melakukan gaslighting terlebih dulu pada kamu. Sehingga kamu terpengaruh dan mulai meragukan emosi diri sendiri dan menolak emosi yang sebenarnya.”

Bagaimana seseorang melakukan gaslighting? Beberapa teknik yang digunakan sulit diidentifikasi, karena digunakan untuk menyembunyikan fakta yang tidak ingin diketahui korban.

Namun, secara umum, berikut ini adalah rentetan perilaku yang berkaitan dengan manipulasi psikologi gaslighting:

1. Withholding atau Menyembunyikan Sesuatu

Pelaku gaslighting yang tidak ingin mengerti atau mendengarkan pendapat korban, serta menolak untuk membagi perasaannya cenderung akan mengatakan:

  • “Saya tidak mau mendengarkan lagi apa yang telah kamu bicarakan kemarin”
  • “Kamu hanya membuat saya bingung”

2. Countering atau Melawan Pendapat

Pelaku akan mempertanyakan ingatan korban, seperti mengatakan:

  • “Ingatlah terakhir kali kamu tidak mengingat sesuatu dengan benar”
  • “Kamu pikir seperti itu, tapi ternyata kamu salah”

3. Blocking dan Diverting, atau Memberhentikan dan Mengalihkan Pembicaraan

Kedua teknik ini digunakan ketika pelaku mengalihkan topik menjadi pertanyaan akan pendapat korban, dan mengontrol pembicaraan. Contohnya:

  • “Saya tidak akan mau mengalami hal itu lagi”
  • “Darimana kamu mendapatkan ide gila seperti itu?”
  • “Kamu menyakitiku dengan sengaja”

4. Trivializing atau Mempertanyakan Ulang

Mempertanyakan sesuatu seakan tak percaya, agar korban merasa bahwa kebutuhan maupun pikirannya tidak penting. Contohnya:

  • “Kamu akan membiarkan hal itu terjadi kepada kita?”

5. Forgetting dan Denial, atau Melupakan dan Menyangkal

Dalam kedua hal ini, pelaku gaslighting bersandiwara melupakan hal yang sudah terjadi sebelumnya agar dapat mengelabui janji yang sempat dibuat bersama korban. Pelaku mungkin akan mengatakan:

  • “Kamu membicarakan apa sih?”
  • “Kamu ada-ada saja. Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan

Mendeteksi Manipulasi Psikologi Gaslighting

Bagaimana mengetahui bahwa Class merupakan korban gaslighting? Berikut tanda-tanda yang mesti Class waspadai:

  • Sering mempertanyakan diri sendiri.
  • Sering merasa kebingungan, bahkan merasa sudah “gila”.
  • Mempertanyakan ‘sensitivitas’ perasaan sendiri secara berlebihan dan setiap hari.
  • Selalu meminta maaf terhadap orang tua, pasangan, bahkan atasan.
  • Tidak mengerti mengapa tidak bahagia walaupun banyak hal positif dalam hidup Anda.
  • Sering membuat alasan kepada teman dan keluarga akan perilaku pasangan gaslighting
  • Menyimpan sebagian informasi dari teman dan keluarga agar Anda tidak perlu bercerita mengenai diri sendiri atau membuat alasan.
  • Anda merasa ada suatu hal yang sangat salah, namun tidak pernah dapat mengekspresikan tentang hal tersebut bahkan ke diri sendiri.
  • Sulit membuat keputusan, mudah berbohong, merasa tidak berdaya dan tidak bahagia.
  • Merasa pernah menjadi seseorang yang sangat berbeda dalam hal percaya diri, lebih relaks, dan menyenangkan.

Apakah seorang pelaku gaslighting menyadari bahwa ia melakukan hal yang salah? Bisa ya dan tidak.

Gaslighting merupakan strategi yang sudah dipelajari oleh pelakunya. Tapi, mereka kebanyakan mendapatkan strategi itu dari tingkah orang tua yang memiliki kecenderungan terhadap suatu substansi atau gangguan mental lainnya.

Gaslighting umumnya dilakukan oleh seseorang dengan gangguan kepribadian, seperti antisosial. Pasalnya, mereka terlahir dengan keinginan yang tak terpuaskan untuk mengontrol banyak orang lantaran kecemasan yang mendalam.

Dampak buruk self-gaslighting

Seseorang yang melakukan self-gaslighting lama kelamaan akan terus mempertanyakan diri sendiri, mimpi-mimpi, serta harapan dan keinginannya. Dikutip dari Forbes, hal ini bisa berujung pada memburuknya kepercayaan diri.
Selain itu, sering melakukan self-gaslighting juga bisa mencegah Class menciptakan perubahan yang positif dalam hidupmu. Sebab, jika kamu tidak mempercayai buruknya situasi yang sedang Class hadapi, Class tidak akan bergerak untuk mengubahnya.
Contohnya, kamu saat ini terjebak di dalam hubungan yang toxic. Namun, kamu menolak mempercayainya dengan cara mengatakan kepada diri sendiri: “Dia memarahiku karena aku terlalu manja.” Akibat memanipulasi diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri, kamu tidak akan bisa keluar dari jerat hubungan toxic tersebut.

Menurut Psychology Today, self-gaslighting pun dapat berdampak pada kesehatan mental. Kepercayaan bahwa dirimu sendiri tidak berharga dan selalu melakukan kesalahan dapat menciptakan rasa takut, bersalah, dan malu pada diri sendiri. Perasaan itu nantinya bisa berujung pada gangguan kecemasan, depresi, rendah diri, bahkan kecenderungan untuk bunuh diri.

Cara Menghentikan Self Gaslighting

Memulihkan diri dari self gaslighting adalah tantangan tersendiri akibat kecenderungan untuk mendiskreditkan diri sendiri. Rasanya mungkin seperti berjuang sendiri di setiap langkah. Namun, beberapa cara berikut ini bisa dilakukan untuk menghentikan self gaslighting.

  1. Cobalah untuk Lebih Menyadari Pikiran dan Penyebab Self Gaslighting

Untuk berhenti self gaslighting, pertama-tama Class harus mengetahui tanda-tandanya dan mengidentifikasinya saat muncul. Semakin Class sadar dan terbiasa dengan pola diri sendiri, maka semakin mudah untuk menyesuaikan atau menguji kenyataan ketika self gaslighting terjadi. Bahkan Class bisa menghadangnya saat tahu Class sedang dalam situasi pemicu.

Menulis jurnal adalah cara untuk menjadi lebih sadar. Catat pemikiranmu dan lihat apakah itu contoh self gaslighting. Gunakan catatan ini sebagai alat informasi, bukan alasan untuk menilai diri sendiri. 

  1. Berkomitmen untuk Memvalidasi dan Tidak Menilai Pikiran Kamu

Dibanding mempertanyakan apakah emosi Class adalah yang “benar” untuk diakui, sebaiknya terimalah dan ingatkan dirimu bahwa Class boleh memilikinya. Hal tersebut bisa berupa:

“Saya merasa frustasi dan tidak berdaya sekarang. Tidak apa-apa untuk merasa seperti ini. Saya diizinkan untuk merasa seperti ini.”

  1. Berbicaralah pada Diri Sendiri Seperti Berbicara dengan Seorang Teman dan Belajar  Mencintai Diri Sendiri

Bersikaplah lembut dengan diri sendiri selama proses ini, meskipun membutuhkan waktu dan usaha yang lebih. Class bisa berdialog dengan diri sendiri, seolah-olah Class adalah teman baik untuk diri Class sendiri yang Class sayangi. 

Ketika Class bisa mencintai diri sendiri, Class akan menghindari hal-hal yang berpotensi membahayakan kesehatanmu sendiri. Selain itu, ketika Class sudah menerima diri sendiri, Class akan memperlakukan dirimu sendiri dengan sebaik-baiknya.
Dikutip dari Forbes, Class bisa melakukan kegiatan-kegiatan self-care yang menurutmu bisa Class lakukan, seperti melakukan yoga atau melakukan perawatan sendiri di rumah. Membawa kebahagiaan di dirimu sendiri akan membantu melawan kecenderungan untuk menyabotase diri sendiri.


Komentar

Postingan Populer