S2-E7 Generativity VS Stagnation

Manusia pada dasarnya mengalami perkembangan kepribadian seiring perkembangan fisiknya. Di dalam proses perkembangan ini setiap individu melewati beberapa tahapan dari lahir sebagai seorang bayi hingga akhirnya mencapai masa lanjut usia. 

Psikologi menyatakan bahwa pada setiap tahap perkembangan manusia terdapat tugas-tugas atau tanggung jawab yang harus dipenuhi. Pada proses perkembangan tersebut tidak dapat dihindari bahwa ada hambatan-hambatan yang membawa dampak negatif terhadap perkembangan seorang individu. Apabila hambatan tersebut diatasi dengan baik maka individu tersebut akan berkembang dengan sukses sehingga mampu memenuhi tugas perkembangan di tahap berikutnya. 

Hal ini ditegaskan oleh Erik Erikson bahwa keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan tahap perkembangan sebelumnya merupakan peluang untuk mencapai keberhasilan di tahap berikutnya (Erikson, 1982). Erikson merupakan peletak dasar dimensi perkembangan pribadi manusia dari segi psikososial. Inti dari teori Erikson adalah konsep identitas diri. Erikson mengatakan bahwa identitas merupakan perihal multidimensional yang harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Perkembangan identitas ini menurut Erikson dilalui dalam delapan tahap perkembangan psikososial. Salah satu tahapnya adalah generativitas versus stagnasi yang lebih menonjol pada usia dewasa madya yaitu antara usia 40-60 tahun (Hurlock, 2012).

Generativitas 

Generativitas mengacu pada "membuat kontribusi pada diri dan memberikan makna" di dunia dengan merawat orang lain serta menciptakan dan mencapai hal-hal yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Karakteristik utama dari generativitas meliputi:

  • -Membuat komitmen kepada orang lain;
  • -Mengembangkan hubungan dengan keluarga;
  • -Mentoring orang lain; dan
  • -Berkontribusi untuk generasi berikutnya.

Seperti yang seseorang bayangkan, hal-hal semacam ini sering diwujudkan melalui hal-hal dengan memiliki dan membesarkan anak. Mereka yang berhasil selama fase ini akan merasa bahwa mereka berkontribusi pada dunia dengan aktif di rumah dan komunitas mereka.


Beberapa tokoh telah merumuskan generativitas sebagai suatu kebutuhan (need), dorongan (drive), perhatian (concern), tugas (task) dan isu (issue) serta dijelaskan secara berbeda dari berbagai sudut pandang ilmu. Dalam ilmu biologi, generativitas dilihat sebagai suatu dorongan untuk memproduksi diri. Dalam bidang filsafat dan kerohanian, generativitas dipandang sebagai suatu tahap pencarian terhadap hal-hal transenden dan simbol imortalitas. Pada tugas perkembangan, generativitas merupakan suatu tahap yang normal yang dialami oleh setiap manusia dan dalam tuntutan sosial, generativitas merupakan integrasi orang dewasa dalam lingkup produktivitas (McAdams & de St. Aubin, 1992)


Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, generativitas merupakan urutan tahap perkembangan yang ketujuh dalam rentang kehidupan manusia. Di tahap ini, individu dewasa madya bertugas untuk merawat dan mewariskan hal-hal positif kepada generasi berikutnya.


Manfaat Generativitas


Mengembangkan rasa generativitas dapat memiliki sejumlah manfaat penting. Manfaat generativits antara lain:

  • Kesehatan yang lebih baik: Generativitas dapat memberikan motivasi yang lebih besar untuk memulai dan mempertahankan perilaku sehat. Orang yang merasa bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membuat perbedaan lebih memungkinkan untuk melakukan kegiatan yang meningkatkan kesehatan karena mereka percaya bahwa tindakan mereka tersebut dapat bermakna.
  • Hubungan yang lebih positif: Bagi banyak orang dewasa, mengasuh anak memainkan peran kunci dalam pengembangan rasa generativitas, tetapi itu bukan satu-satunya jalan. Erik Erikson sendiri menyarankan bahwa berpartisipasi dalam kehidupan orang lain, apakah mereka anak-anak, teman, atau orang lain, adalah cara penting untuk mendapatkan rasa memberikan kontribusi dan memberi makna di dunia.
  • Produktivitas yang lebih besar: Tindakan yang diperlukan untuk mengembangkan rasa generativitas adalah melibatkan pengambilan peran aktif dan partisipatif di lingkungan sosial. Orang-orang generatif produktif dalam berbagai cara termasuk mengajar, membimbing, dan menjadi sukarelawan.
  • Pemenuhan yang lebih besar: Karena generativitas difokuskan pada memberikan kontribusi, orang yang mampu memperoleh rasa generativitas ini juga lebih cenderung mengalami rasa pemenuhan yang lebih besar. Mereka mampu melihat kehidupan, keluarga, dan pekerjaan mereka dan merasa bahwa mereka telah menjalani kehidupan yang penuh konsekuensi dan sukacita.
  • Peningkatan keterlibatan masyarakat: Selama bagian awal masa dewasa, orang tua dan keluarga cenderung menjadi faktor dominan yang berkontribusi terhadap perkembangan generativitas. Tetapi memberikan bantuan kepada orang lain, seringkali dalam bentuk keterlibatan sosial, juga berperan dalam generativitas seiring bertambahnya usia.

  • Cara Meningkatkan Generativitas

    Bagi orang-orang yang mengalami stagnasi, ada banyak hal yang dapat dilakukan orang-orang tersebut untuk meningkatkan perasaan generativitas versus perasaan stagnasi pada titik kehidupan ini. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan antara lain:

    • Berpartisipasi dalam komunitas: Keterlibatan seseorang dengan komunitas dapat membantu menumbuhkan generativitas, jadi untuk orang yang mengalami stagnasi carilah cara untuk terlibat dalam komunitas. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menjadi sukarelawan untuk sebuah organisasi, ambil bagian dalam proyek komunitas, atau terlibat dalam aktivisme lokal. 
    • Asumsikan tanggung jawab: Seseorang yang merasa produktif dalam pekerjaannya dapat membantu meningkatkan generativitas, jadi untuk seseorang yang mengalami stagnasi carilah cara baru untuk mengambil tugas dan peran baru di tempat kerja atau di rumah. Ambil proyek besar di tempat kerja atau jelajahi cara untuk meningkatkan beberapa aspek dalam rumah tangga.
    • Pelajari keterampilan baru dan bagikan dengan orang lain: Dengan berbagi keterampilan dan pengetahuan seseorang dengan orang lain juga dapat membantu meningkatkan generativitas, jadi carilah kesempatan untuk mengajar atau menjadi mentoring.
    • Relawan: Membantu orang lain dalam meningkatkan kehidupan orang lain juga dapat membangun generativitas. Sekolah, tempat ibadah, atau lembaga organisasi masyarakat adalah tempat yang baik untuk mencari peluang menjadi sukarelawan.

    Orang yang memiliki hubungan positif dengan orang lain, kualitas kesehatan yang baik, dan rasa kontrol atas hidupnya akan merasa lebih produktif dan puas.


Stagnasi 


mengacu pada kegagalan untuk menemukan cara dalam berkontribusi. Individu-individu yang mengalami stagnasi ini mungkin merasa terputus atau tidak terlibat dengan komunitas mereka dan dengan masyarakat secara keseluruhan. Beberapa ciri stagnasi antara lain:

  • -Menjadi pemarah;
  • -Gagal terlibat dengan orang lain;
  • -Tidak tertarik pada produktivitas;
  • -Tidak ada usaha untuk memperbaiki diri; dan
  • -Menempatkan kekhawatiran seseorang di atas segalanya.

Mereka yang gagal mencapai keterampilan ini akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia.


Stagnasi yakni individu yang tidak mengembangkan diri secara sosial tetapi hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri. Virtue atau kebajikan pada tahap ini yang mendorong individu untuk mencapai generativitas adalah kepedulian (care) (Erikson, 1982).

Dampak Dari Stagnasi

Ketika orang gagal mencapai generativitas, mereka akan mengembangkan rasa stagnasi. Perasaan seperti itu dapat berdampak pada bagaimana orang mengelola tahun-tahun terakhir dalam kehidupan mereka. Beberapa hasil potensial yang mungkin terkait dengan stagnasi meliputi:

  • Kesehatan yang lebih buruk: Generativitas telah dikaitkan dengan hasil kesehatan di kemudian hari, sehingga mereka yang dibiarkan dengan rasa stagnasi mungkin menghadapi kesehatan yang lebih buruk seiring bertambahnya usia.
  • Kualitas hubungan yang lebih rendah: Karena perkembangan generativitas terkait dengan hubungan yang sehat dengan orang lain, stagnasi sering kali diakibatkan oleh hubungan sosial yang berkualitas rendah. Kondisi ini bisa menjadi masalah seiring bertambahnya usia karena hubungan sosial memainkan peran penting dalam prose penuaan yang sehat.
  • Kepuasan hidup yang menurun: Orang yang tidak mencapai rasa generativitas, mereka akan merasa kurang puas dengan hidup mereka. Mereka mungkin melihat hidup mereka dengan penyesalan, rasa bosan, dan ketidakpuasan secara keseluruhan.

Pada titik kehidupan inilah beberapa orang mungkin mengalami apa yang sering disebut sebagai "krisis paruh baya". Orang mungkin merenungkan kembali pencapaian mereka dan mempertimbangkan lintasan masa depan mereka dan merasa menyesal. Dalam beberapa masalah, kondisi ini mungkin melibatkan penyesalan atas kesempatan yang hilang seperti pergi ke sekolah, mengejar karir, atau memiliki anak.

Dalam beberapa permasalahan lain, orang-orang mungkin menggunakan krisis ini sebagai kesempatan untuk membuat penyesuaian dalam hidup mereka yang akan mengarah pada pemenuhan yang lebih besar.


Penting untuk dicatat bahwa cara orang menafsirkan penyesalan inilah yang memengaruhi kesejahteraan mereka. Mereka yang merasa telah melakukan kesalahan, membuang-buang waktu, dan tidak punya waktu untuk melakukan perubahan mungkin akan merasa pahit.


Cara Mengurangi Stagnasi

Mereka yang menderita kesehatan yang buruk, hubungan yang buruk, dan merasa bahwa mereka tidak memiliki kendali atas nasib mereka lebih mungkin mengalami perasaan stagnasi. Jika seseorang merasakan stagnasi, ada hal-hal yang dapat dia lakukan untuk merasa lebih produktif dan terlibat. Beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan antara lain:

  • Jelajahi hobi baru: Menemukan gairah baru adalah cara yang bagus untuk merasa lebih kreatif dan terinspirasi.
  • Pelajari sesuatu yang baru: Memperoleh dan kemudian menerapkan keterampilan baru dapat membantu seseorang merasa lebih produktif.
  • Temukan sumber inspirasi baru: Ketika seseorang merasa mandek atau stag, carilah hal-hal yang bisa membantu merasa terinspirasi. Seseorang yang mengalami stagnasi kemudian dapat menggunakan sumber-sumber ini sebagai cara untuk membangun motivasi untuk mengatasi hal-hal baru.
  • Cari peluang baru: Bahkan jika seseorang telah mantap dan cocok dengan perannya di tempat kerja atau di rumah, penting untuk mencari cara baru untuk merasa tertantang, berguna, dan produktif.

Menemukan cara untuk memerangi stagnasi dapat membantu seseorang untuk tetap lebih aktif, terlibat, dan puas dengan hidup seiring bertambahnya usia.


Faktor Yang Mempengaruhi Generativitas vs Stagnasi


Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang tahap generativitas vs stagnasi ini adalah bahwa peristiwa kehidupan cenderung kurang spesifik pada usia dewasa pertengahan daripada selama tahap awal dan tahap akhir dari kehidupan. Peristiwa besar yang berkontribusi pada tahap ini, seperti pernikahan, pekerjaan, dan pengasuhan anak, dapat terjadi kapan saja selama rentang dewasa pertengahan yang agak luas.


Ada sejumlah faktor yang dapat berkontribusi pada perkembangan generativitas atau stagnasi selama usia paruh baya. Beberapa di antaranya:

Kebanggaan dalam Pekerjaan dan Keluarga

Aspek tahap generativitas versus stagnasi ini berpusat pada rasa bangga yang dimiliki orang dewasa terhadap keluarga dan anak-anak mereka. Dalam banyak hal, kondisi ini mencerminkan tahap otonomi versus rasa malu dan ragu pada anak usia dini.

Aspek kedewasaan pada tahap ini berpusat pada menjangkau dan berkontribusi pada generasi berikutnya. Hal ini dapat terjadi melalui pola asuh, walaupun tidak semua orang yang menghasilkan keturunan serta merta menjadi orang tua yang mendukung dan memberi. Mereka yang tidak memiliki anak masih bisa memberi kontribusi dan memberi makna kepada generasi berikutnya dengan cara yang berarti.

Merasa Terlibat

Merasa menjadi bagian dari sesuatu, apakah itu unit keluarga individu atau komunitas yang lebih besar, sangat penting untuk pengembangan generativitas. Hal ini berpusat pada ruang lingkup kegiatan pengasuhan dan pada apa dan siapa yang ingin dimasukkan oleh individu dalam kehidupan mereka. Tahap ini mencerminkan tahap percaya versus tidak percaya pada anak usia dini.

Mengambil tanggung jawab

Ketika orang melewati masa dewasa, mereka harus memilih untuk bertanggung jawab atas hidup dan pilihan mereka. Ini mencerminkan tahap inisiatif versus rasa bersalah yang terlihat sebelumnya selama masa kanak-kanak. Orang-orang yang mengambil tanggung jawab lebih cenderung merasa diberdayakan dan mengendalikan hidup dan takdir mereka. Hal ini lebih cenderung mengarah pada rasa memberikan kontribusi kepada dunia.

Merasa Produktif

Pekerjaan memainkan peran utama di masa dewasa, sehingga tidak mengherankan bahwa rasa bangga dan prestasi individu dalam pekerjaan mereka dapat menyebabkan perasaan produktivitas. Tahap ini mencerminkan industri versus inferioritas pada masa kanak-kanak. Orang-orang yang merasa sibuk dan produktif juga cenderung merasa bahwa mereka membuat perbedaan dalam kehidupan orang lain.

Membuat Kontribusi

Ketika tahap generativitas hampir berakhir dan orang-orang mendekati tahap akhir kehidupan, mereka akan menemukan makna memainkan peran yang semakin penting. Pengetahuan diri dan pemahaman diri memiliki peran penting selama fase generativitas versus stagnasi. Ketika orang-orang mencapai titik di mana mereka mulai merenungkan kembali kehidupan dan pencapaian mereka, penting untuk merasakan bahwa pencapaian ini telah meninggalkan bekas yang bertahan lama di dunia.









Komentar

Postingan Populer