S2-E13 Perbedaan Sigmund Freud dan Erik Erikson

Psikoanalisa merupakan salah satu aliran psikologi yang memiliki manfaat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, psikoanalisa ditemukan di Vienna, Austria, oleh psikiatris Sigmund Freud.

Freud mengembangkan teori perilaku dan pikiran dengan mengatakan bahwa apa yang kita lakukan dan pikirkan adalah hasil ekspresi dari keinginan atau dorongan yang muncul dalam perilaku dan pikiran, Freud juga meyakini bahwa dalam diri manusia terdapat energi psikis yang dinamis yang kekal dan mendorong individu dalam bertingkah laku.

fungsi psikis tersebut yaitu :

> Id : Merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak, libido murni atau energi psikis yang menentukan ciri alami yang irasional dan terkait dengan sex dan menentukan ketidaksadaran, dorongan Id selalu ingin dipuaskan dan berusaha menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan

> Ego : Merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id sering kali disebut sebagai kepribadian eksekutif karena perasaan dalam menghubungkan Id ke dalam sosial yang dapat di mengerti orang lain.

> Superego : Merupakan kepribadian paling akhir, muncul setelah Id dan Ego yang berkembang secara internal dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal dari pandangan-pandangan orang tua.

Bersama-sama dengan Ego dan Superego mengatur serta mengarahkan tingkah laku manusia yang bermaksud memuaskan dorongan dari Id melalui aturan dalam masyarakat agama mengenai perilaku yang baik dan buruk.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa id, ego, dan superego adalah suatu konsep yang dikembangkan Freud untuk menjelaskan komponen-komponen perkembangan biologis (id), psikologis (ego), dan social (superego). Ketiga komponen kepribadian ini berkembang melalui tahap-tahap perkembangan psikoseksual. Freud menggunakan istilah-istilah “seksual” untuk segala tindakan dan pikiran yang memberi kenikmatan atau kepuasan, dan istilah “psikoseksual” digunakan untuk menunjukkan bahwa proses perkembangan psikologis ditandai dengan adanya libido (energi seksual) yang dipusatkan pada daerah-daerah tubuh tertentu yang berbeda-beda. Freud yakin bahwa perkembangan manusia melewati 5 tahap perkembangan psikoseksual dan bahwa setiap tahap perkembangan tersebut individu mengalami kenikmatan pada satu bagian tubuh lebih daripada bagian tubuh lainnya.

TAHAP
USIA
CIRI-CIRI PERKEMBANGAN
oral
0-1
Bayi merasakan kenikmatan pada daerah mulut. Mengunyah, menggigit dan menghisap adalah sumber utama kenikmatan.

Anal

1-3
Kenikmatan terbesar anak terdapat disekitar daerah lubang anus. Rangsangan pada daerah lubang anus ini berkaitan erat dengan kegiatan buang air besar.

Phallic

3-6
Kenikmatan berfokus pada alat kelamin, ketika anak menemukan bahwa manipulasi diri dapat memberi kenikmatan. Anak mulai menaruh perhatian pada perbedaan-perbedaan anatomic antara lak-laki dan perempuan, terhadap asal-usul bayi dan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seks.

Latency

6-12
Anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan ketrampilan social dan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energi anak kedalam bidang-bidang yang amn secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phalic yang sangat menekan.

Genital

12-dewasa
Dorongan-dorongan seks yang ada pada masa phallic kembali berkembang, setelah berada pada keadaan tenang selama masa latency. Kematangan fisiologis ketika anak memasuki masa remaja, mempengaruhi timbulnya daerah-daerah erogen pada

Selain Freud, teori Erikson juga merupakan salah satu teori yang berpengaruh kuat dalam psikologi karena ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir sampai usia lanjut dan Freud menjelaskan perkembangan manusia dari lahir sampai dewasa.

Jika Freud berbicara mengenai ketidaksadaran manusia, Erikson berbicara mengenai aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realitis.

Teori Erikson juga memiliki hubungan dengan Ego yang merupakan aspek yang mendekati kepribadian namun Erikson lebih menekankan kepada pentingnya perubahan yang terjadi pada tahap perkembangan kehidupan, selain itu ia juga menggabungkan pengertian klinik dengan sosial karena itu Erikson lebih menyingkirkan masalah insting dan alam bawah sadar.

Jika Freud lebih kepada psikologis maka Erikson berhubungan dengan kebutuhan biologis dan sosial untuk saling mempengaruhi dan berinteraksi, Freud juga menekankan kepada dorongan seksual, sedangkan Erikson menekankan aspek perkembangan sosial.

Menurut Erikson dalam perkembangan terdapat kekeliruan yang tidak menyenangkan, karena itu jika seseorang mengalami ketidakseimbangan maka pada tahap selanjutnya akan berlangsung kembali untuk diperbaiki.

Berikut perbedaan psikoanalisa Freud dan Erikson :

> Menurut Freud apa yang kita lakukan adalah hasil ekspresi keinginan dan dorongan yang muncul dalam perilaku dan pikiran, sedangkan Erikson mengatakan aspek sosial lebih realitis.
 
Freud menjelaskan tahap perkembangan dari lahir sampai dewasa, sedangkan Erikson menjelaskan tahap perkembangen dari Lahir sampai usia lanjut.
 
> Freud membicarakan fungsi ketidaksadaran, dan Erikson membicarakan fungsi budaya dan menyingkirkan insting bawah sadar.
 
> Freud lebih menekankan kepada kebutuhan psikologis, sedangkan Erikson menekankan kepada kebutuhan biologis dan sosial.
 
> Freud lebih fokus kepada dorongan seksual, sedangkan Erikson kepada aspek perkembangan sosial.

Jika Freud selalu ingin mencapai kepuasan dan menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan maka Erikson akan memperbaiki kesalahan jika mengalami ketidakseimbangan.
 
> Pada Freud individu menjadi kurang terpancing aktifnya, sedangkan Erikson individu otomatis menjadi aktif.

Psikososial dalam kaitannya dengan perkembangan manusia berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh social yang berinteraksi dengan individu yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Menurut teori psikososial Erikson, perkembangan manusia dibedakan berdasarkan kualitas ego dalam 8 tahap perkembangan. 4 tahap pertama terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak, tahap ke 5 pada masa adolesen, dan 3 tahap terakhir pada masa dewasa dan usia tua.

8 tahap perkembangan psikososial Erikson :

1. Trust versus Mistrust

Pada tahap ini bayi mengalami konflik antara percaya dan tidak percaya. Rasa percaya menuntut perasaan nyaman secara fisik. Pada saat itu, hubungan bayi dengan ibu menjadi sangat penting. Kalu ibu memberi bayi makan, memeluk dan mengajaknya bicara, maka bayi akan memperoleh kesan bahwa lingkungannya dapat menerima kehadirannya secara hangat dan bersahabat. Ini yang menjadi landasan rasa percaya. Sebaliknya, jika ibu tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi, maka dalam diri bayi akan timbul rasa ketidakpercayaan terhadap lingkungannya.

2. Autonomy versus Shame and Doubt

Berlangsung pada akhir masa bayi dan masa mulai berjalan. Setelah memperoleh kepercayaan, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka. Mereka menyadari kemauan mereka. Pada tahap ini bila orang tua selalu memberikan dorongan kepada anak agar dapat berdiri diatas kaki mereka sendiri, sambil melatih kemampuan mereka, maka anak akan mampu mengembangkan pengendalian atas otot, dorongan, lingkungan dan diri sendiri. Sebaliknya, jika orang tua cenderung menuntut terlalu banyak atau terlalu membatasi anak untuk menyelidiki lingkungannya, maka anak akan mengalami rasa malu dan ragu-ragu.

3. Initiative versus Guilt

Berlangsung pada tahun-tahun pra sekolah. Anak terlihatsangat aktif, suka berlari, berkelahi, memanjat dan suka menantang lingkungannya. Dengan menggunakan bahasa, fantasi dan permainan khayalan, dia memperoleh perasaan harga diri. Bila orangtua berusaha memahami, menjawab pertanyaan anak, dan menerima keaktifan anak dalam bermain, maka anak akan belajar untuk mendekati apa yang diinginkan, dan perasaan inisiatif menjadi semakin kuat. Sebaliknya bila orangtua kurang memahami, kurang sabar, suka memberi hukuman dan menganggap bahwa pengajuan pertanyaan, bermain dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak tidak bermanfaat, maka anak akan merasa bersalah dan menjadi enggan untuk mengambil inisiatif untuk mendekati apa yang diinginkannya.

4. Industry versus Inferiority

Berlangsung kira-kira pada saat sekolah dasar. Anak mulai memasuki dunia yang baru, yaitu sekolah dengan segala aturan dan tujuan. Anak mulai mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan ketrampilan intelektual. Alat-alat permainan dan kegiatan bermain berangsur-angsur digantikan oleh perhatian pada situasi produktif serta alat-alat yang dipakai untuk bekerja. Akan tetapi, bila anak tidak berhasil menguasai ketrampilan dan tugas-tugas yang dipilihnya atau yang diberikan oleh guru dan orangtuanya, maka anak akan mengembangkan perasaan rendah diri.

5. Identity versus Identity Confusion

Tahap yang berlangsung selama masa remaja. Pada tahap ini, anak dihadapkan dengan pencarian jati diri. Ia mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah individu unik yang siap memasuki suatu peran yang berarti di tengah masyarakat, baik peran yang bersifat menyesuaikan diri maupun yang bersifat memperbaharui. Tetapi, karena peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa di satu pihak dank arena kepekaan terhadap perubahan social dan histories di pihak lain, maka anak akan mengalami krisis identitas. Bila krisis ini tidak segera diatasi, maka anak akan mengalami kebingungan peran atau kekacauan identitas, yang dapat menyebabkan anak merasa terisolasi, cemas, hampa dan bimbang.

6. Intimacy versus Isolation

Tahap ini berlangsung selama tahun-tahun awal masa dewasa. Tugas perkembangan individu pada masa ini adalah membentuk relasi intim dengan orang lain. Menurut Erikson, keintiman tersebut biasanya menuntut perkembangan seksual yang mengarah pada hubungan seksual dengan lawan jenis yang dicintai. Bahaya dari tidak tercapainya keintiman selama tahap ini adalah isolasi, yakni kecenderungan menghindari hubungan secara intim dengan orang lain, kecuali dalam lingkup yang amat terbatas.

7. Generativity versus Stagnation

Tahap yang dialami individu selama pertengahan masa dewasa. Ciri utama tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan (keturunan, produk, ide, dsb) serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang. Kepedulian seseorang terhadap pengembangan generasi muda inilah yang diistilahkan oleh Erikson dengan “generativitas”. Apabila generativitas ini lemah atau tidak diungkapkan, maka kepribadain akan mundur, mengalami pemiskinan dan stagnasi.

8. Integrity versus Despair

Tahap ini berlangsung selama akhir masa dewasa. Integritas terjadi ketika seseorang pada tahun-tahun terakhir kehidupannya menoleh kebelakang dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam hidupnya selama ini, menerima dan menyesuaikan diri dengan keberhasilan dan kegagalan yang dialaminya, merasaaman dan tentram, serta menikmati hidup sebagai yang berharga dan layak. Akan tetapi, bagi orang tua yang dihantui oleh perasaan bahwa hidupnya selama ini sama sekali tidak mempunyai makna ataupun memberikan kepuasan pada dirinya, maka ia akan merasa putus asa.


Daftar Pustaka :

Santrock, John W. (2002). Life-Span DevelopmentJakarta : Erlangga

Papalia, Diane E.,et.al. (2008). Human DevelopmentJakarta : Kencana Prenada Media Group


Komentar

Postingan Populer