Al Hakam, artinya: Yang Maha Menetapkan

Bahkan Allah akan memberikan balasan yang baik bagi tiap manusia yang menyertakan nama-nama Allah dalam setiap doanya.

"Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". Al A'raf: 180

Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat mendengar terkait Asmaul Husna, ia kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad SAW:

“Wahai Rasulullah, apakah kami boleh mempelajarinya?” Nabi Muhammad SAW lantas menjawab, “Benar, dianjurkan bagi setiap orang yang mendengarnya [Asmaul Husna] untuk mempelajarinya,” H.R. Ahmad

Berikut arti Asmaul Husna yang perlu kamu pahami:

1. Ar Rahman, artinya: Yang Maha Pengasih

2. Ar Rahiim, artinya: Yang Maha Penyayang

3. Al Malik, artinya: Yang Maha Merajai (bisa diartikan Raja dari semua Raja)

4. Al Quddus, artinya: Yang Maha Suci

5. As Salaam, artinya: Yang Maha Memberi Kesejahteraan

6. Al Mu'min, artinya: Yang Maha Memberi Keamanan

7. Al Muhaimin, artinya: Yang Maha Mengatur

8. Al-Aziz artinya: Yang Maha Perkasa

9. Al Jabbar, artinya: Yang Memiliki (Mutlak) Kegagahan

10. Al Mutakabbir, artinya: Yang Maha Megah, yang memiliki kebesaran

11. Al Khaliq, artinya: Yang Maha Pencipta

12. Al Baari', artinya: Yang Maha Melepaskan (membuat, membentuk, menyeimbangkan)

13. Al Mushawwir, artinya: Yang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)

14. Al Ghaffaar, artinya: Yang Maha Pengampun

15. Al Qahhaar, artinya: Yang Maha Menundukkan/Menaklukkan Segala Sesuatu

16. Al Wahhaab, artinya: Yang Maha Pemberi Karunia

17. Ar Razzaaq, artinya: Yang Maha Pemberi Rezeki

18. Al Fattaah, artinya: Yang Maha Pembuka Rahmat

19. Al 'Aliim, artinya: Yang Maha Mengetahui

20. Al Qaabidh, artinya: Yang Maha Menyempitkan

21. Al Baasith, artinya: Yang Maha Melapangkan

22. Al Khaafidh, artinya: Yang Maha Merendahkan

23. Ar Raafi', artinya: Yang Maha Meninggikan

24. Al Mu'izz, artinya: Yang Maha Memuliakan

25. Al Mudzil, artinya: Yang Maha Menghinakan

26. Al Samii', artinya: Yang Maha Mendengar

27. Al Bashiir, artinya: Yang Maha Melihat

28. Al Hakam, artinya: Yang Maha Menetapkan

29. Al 'Adl, artinya: Yang Maha Adil

30. Al Lathiif, artinya: Yang Maha Lembut

31. Al Khabiir, artinya: Yang Maha Mengenal

32. Al Haliim, artinya: Yang Maha Penyantun

33. Al 'Azhiim, artinya: Yang Maha Agung

34. Al Ghafuur, artinya: Yang Maha Memberi Pengampunan

35. As Syakuur, artinya: Yang Maha Pembalas Budi (menghargai)

36. Al 'Aliy, artinya: Yang Maha Tinggi

37. Al Kabiir, artinya: Yang Maha Besar

38. Al Hafizh, artinya: Yang Maha Memelihara

39. Al Muqiit, artinya: Yang Maha Pemberi Kecukupan

40. Al Hasiib, artinya: Yang Maha Membuat Perhitungan

41. Al Jaliil, artinya: Yang Maha Luhur

42. Al Kariim, artinya: Yang Maha Pemurah

43. Ar Raqiib, artinya: Yang Maha Mengawasi

44. Al Mujiib, artinya: Yang Maha Mengabulkan

45. Al Waasi', artinya: Yang Maha Luas

46. Al Hakim, artinya: Yang Maha Bijaksana

47. Al Waduud, artinya: Yang Maha Mengasihi

48. Al Majiid, artinya: Yang Maha Mulia

49. Al Baa'its, artinya: Yang Maha Membangkitkan

50. As Syahiid, artinya: Yang Maha Menyaksikan

51. Al Haqq, artinya: Yang Maha Benar

52. Al Wakiil, artinya: Yang Maha Memelihara

53. Al Qawiyyu, artinya: Yang Maha Kuat

54. Al Matiin, artinya: Yang Maha Kokoh

55. Al Waliyy, artinya: Yang Maha Melindungi

56. Al Hamiid, artinya: Yang Maha Terpuji

57. Al Muhshii, artinya: Yang Maha Mengalkulasi (menghitung segala sesuatu)

58. Al Mubdi', artinya: Yang Maha Memulai

59. Al Mu'iid, artinya: Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

60. Al Muhyii, artinya: Yang Maha Menghidupkan

61. Al Mumiitu, artinya: Yang Maha Mematikan

62. Al Hayyu, artinya: Yang Maha Hidup

63. Al Qayyuum, artinya: Yang Maha Mandiri

64. Al Waajid, artinya: Yang Maha Penemu

65. Al Maajid, artinya: Yang Maha Mulia

66. Al Wahid, artinya: Yang Maha Tunggal

67. Al Ahad, artinya: Yang Maha Esa

68. As Samad, artinya: Yang Maha Dibutuhkan (tempat meminta)

69. Al Qaadir, artinya: Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan

70. Al Muqtadir, artinya: Yang Maha Berkuasa

71. Al Muqaddim, artinya: Yang Maha Mendahulukan

72. Al Mu'akkhir, artinya: Yang Maha Mengakhirkan

73. Al Awwal, artinya: Yang Maha Awal

74. Al Aakhir, artinya: Yang Maha Akhir

75. Az Zhaahir, artinya: Yang Maha Nyata

76. Al Baathin, artinya: Yang Maha Ghaib

77. Al Waali, artinya: Yang Maha Memerintah

78. Al Muta'aalii, artinya: Yang Maha Tinggi

79. Al Barru, artinya: Yang Maha Penderma (maha pemberi kebajikan)

80. At Tawwaab, artinya: Yang Maha Penerima Taubat

81. Al Muntaqim, artinya: Yang Maha Pemberi Balasan

82. Al Afuww, artinya: Yang Maha Pemaaf

83. Ar Ra'uuf, artinya: Yang Maha Pengasuh

84. Malikul Mulk, artinya: Yang Maha Penguasa Kerajaan (semesta)

85. Dzul Jalaali WalIkraam, artinya: Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan

86. Al Muqsith, artinya: Yang Maha Pemberi Keadilan

87. Al Jamii', artinya: Yang Maha Mengumpulkan

88. Al Ghaniyy, artinya: Yang Maha Kaya

89. Al Mughnii, artinya: Yang Maha Pemberi Kekayaan

90. Al Maani, artinya: Yang Maha Mencegah

91. Ad Dhaar, artinya: Yang Maha Penimpa Kemudharatan

92. An Nafii', artinya: Yang Maha Memberi Manfaat

93. An Nuur, artinya: Yang Maha Bercahaya (menerangi, memberi cahaya)

94. Al Haadii, artinya: Yang Maha Pemberi Petunjuk

95. Al Badii', artinya: Yang Maha Pencipta Tiada Bandingannya

96. Al Baaqii, artinya: Yang Maha Kekal

97. Al Waarits, artinya: Yang Maha Pewaris

98. Ar Rasyiid, artinya: Yang Maha Pandai

99. As Shabuur, artinya: Yang Maha Sabar

Secara harfiah, Al-Hakam berasal dari kata Arab “h-k-m” yang berarti memutuskan, menetapkan, atau mengatur. Dalam konteks Allah, Al-Hakam menunjukkan bahwa Dia memiliki hak prerogatif untuk memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan ciptaan-Nya. Ini mencakup hukum, takdir, dan segala aspek kehidupan.

Kata al-Hakam yang terkait dengan nama dan sifat Allah dapat dijumpai dalam surat al-An’am (6) ayat 144. Jadi, makna al-Hakam dalam ayat ini adalah Allah yang Maha Pemberi putusan dan ketetapan yang pasti benar dan adil. Selain itu, kata hakam dalam al-Qur’an juga digunakan untuk menunjuk pihak yang dipandang mampu menjadi penengah atau juru damai. Namun demikian, hakam sebagai nama dan sifat Allah maupun sebagai penengah atau juru damai menunjukkan medan makna yang sama, yaitu pemberi putusan dan ketetapan.

Hukum itu sendiri merupakan sebuah sistem yang terdapat di dalamnya peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan manusia dan bertujuan mencegah kerusakan dan kejahatan. Sehingga seluruh syariat islam merupakan hukum yang pasti maslahat bagi manusia, dan dimana syariat itu dilanggar akan ada konsekuensinya. Maka seluruh keputusan dan hukum pada hakikatnya hanyalah milik Allah dan sumber segala peraturan dan undang-undang adalah wahyu yang Allah turunkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: 

إن الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ 

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. (QS. Yusuf: 40) 

Tidak ada siapapun yang dapat meninjau ulang kemudian membatalkan hukum Allah, dan tidak ada suatu makhlukpun yang dapat keluar dari hukum Allah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: 

وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ 

dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. (QS. Ar-Ro’du: 41)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu, tidaklah dihalalkan berburu ketika kamu dalam keadaan ihram. Sesungguhnya Allah memutuskan apa yang Dia kehendaki.”Surah Al-Maidah ayat 1

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memiliki hak untuk memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan syariat-Nya.

Hukum Allah

Menurut Imam Al-Ghazali, hukum Allah ialah rangkaian sebab-sebab yang mengantarkan sesuatu pada akibat-akibat tertentu. Segala sebab yang ada di dunia ini merupakan hasil ciptaan Allah. Begitu pun akibat yang menyusulinya. 

Demikianlah rangkaian tersebut disebut hukum Allah. Allah sebagai penciptanya disebut Al-Hakam atau Zat Yang Maha Menetapkan Hukum. 

Sebab akibat

Misalnya, amal baik dan kebahagiaan. Amal baik dapat mengantarkan seseorang yang mengerjakannya memperoleh kebahagiaan. Amal baik ialah sebab dan kebahagiaan ialah akibat.

Misal yang lain, amal buruk dan kesengsaraan. Amal buruk bisa menyampaikan seseorang yang melakukannya mendapat kesengsaraan. Amal buruk ialah sebab sedangkan kesengsaraan menjadi akibat. 

Dua misal di atas merupakan hukum Allah yang berlaku untuk setiap manusa sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

"Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." 

Takdir

Telah mafhum bagi kita bahwa Allah menetapkan takdir bagi setiap hamba-Nya. Ada orang yang ditakdirkan beruntung di akhirat. Ada pula orang yang ditakdirkan sengsara di akhirat. 

Perlu kita ketahui bahwa Allah akan memudahkan seseorang untuk menjalani sebab-sebab yang bisa mengantarkan ia pada takdirnya. Rasulullah SAW bersabda

فعل الخير ، كل شيء أصبح سهلاً لما تم إنشاؤه من أجله

"Beramallah kalian. Semua telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya." (HR Bukhari)

Implikasi Al-Hakam dalam Kehidupan Manusia

1. Kesadaran akan Keadilan Allah

Sifat Al-Hakam mengingatkan kita bahwa Allah adalah Hakim yang adil. Setiap tindakan kita akan mendapatkan balasan yang sesuai, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam Surah Al-Imran ayat 182, Allah berfirman:

“Ini adalah balasan atas apa yang telah kamu lakukan, dan Allah tidak pernah menzalimi seorang pun.”

Kesadaran akan keadilan Allah seharusnya membuat kita lebih hati-hati dalam bertindak dan bersikap.

2. Menghadapi Ujian dan Musibah

Ketika kita menghadapi ujian atau musibah dalam hidup, penting untuk mengingat bahwa Allah, sebagai Al-Hakam, memiliki rencana yang lebih besar. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman:

“Dan Kami akan menguji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Kesadaran ini membantu kita untuk tetap bersabar dan percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari takdir yang ditetapkan oleh Allah.

3. Penyerahan Diri kepada Allah

Sifat Al-Hakam mendorong kita untuk berserah diri kepada Allah dalam segala hal. Ketika kita menyadari bahwa Allah yang Maha Menetapkan adalah yang terbaik dalam segala ketetapan-Nya, kita akan merasa lebih tenang dan damai. Dalam Surah Al-Anfal ayat 61, Allah berfirman:

“Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka cenderunglah kamu kepadanya.”

Penyerahan diri kepada Allah juga menunjukkan keimanan kita bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana-Nya yang lebih besar.

4. Ketaatan Terhadap Hukum Allah

Sebagai umat Muslim, kita diharapkan untuk taat terhadap hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah. Dalam Surah Al-Maidah ayat 49, Allah berfirman:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah.”

Ketaatan terhadap hukum Allah mencerminkan keyakinan kita bahwa Dia adalah Al-Hakam, yang memiliki kekuasaan penuh untuk menetapkan yang benar dan yang salah.

Mengamalkan Sifat Al-Hakam dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Menjunjung Keadilan

Sifat Al-Hakam mengajak kita untuk menjunjung tinggi keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu berusaha untuk bersikap adil dalam setiap interaksi, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak, dan apabila kamu memutuskan perkara di antara manusia, hendaklah kamu memutuskan dengan adil.”

2. Bersikap Bijaksana dalam Mengambil Keputusan

Sebagai manusia, kita sering dihadapkan pada keputusan yang sulit. Mengambil inspirasi dari sifat Al-Hakam, kita seharusnya berusaha untuk mengambil keputusan yang bijaksana dan tidak tergesa-gesa. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 188, Allah mengingatkan kita:

“Janganlah kamu memakan harta sesama di antara kamu dengan jalan yang batil.”

Kita perlu berusaha untuk melakukan introspeksi dan mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan yang kita ambil.

3. Menerima Takdir dengan Lapang Dada

Ketika kita menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan kita, penting untuk menerima takdir dengan lapang dada. Sebagai manusia, kita tidak selalu mengerti mengapa sesuatu terjadi, tetapi kita harus percaya bahwa Allah memiliki alasan yang baik untuk setiap ketetapan-Nya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 216, Allah berfirman:

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, atau bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

4. Memperbaiki Diri

Mengetahui bahwa Allah adalah Al-Hakam seharusnya mendorong kita untuk terus berusaha memperbaiki diri. Kita perlu mengevaluasi tindakan kita dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam Surah Al-Mulk ayat 2, Allah berfirman:

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

DOA IBADAH 

Nama Allah Al-Hakam menunjukkan sifat maha sempurna Allah yang lainnnya, karena tidak mungkin Allah menjadi hakim yang sempurna kecuali dengan sifat-sifatnya yang maha sempurna. Seperti sifat Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana dst.  

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah menegur salah seorang shahabatnya karena ia memiliki kunyah (panggilan) dengan Abdul Hakam (Pakarnya Hukum). Beliau bersabda: 

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَكَمُ وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ فَلِمَ تُكْنَى أَبَا الْحَكَمِ 

“Sesungguhnya Allah-lah Al Hakam (penentu hukum) dan hanya kepada-Nya (kita) berhukum. Lalu kenapa kamu diberi gelar Abul Hakam?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika kaumku berselisih dalam satu permasalahan, mereka mendatangiku, lalu aku-lah yang memberi putusan hukum atas perselisihan mereka, dan mereka ridha.” 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda:  

مَا أَحْسَنَ هَذَا فَمَا لَكَ مِنْ الْوَلَدِ 

“Betapa baiknya ini! Apakah kamu mempunyai anak?” Ia menjawab, “Aku mempunyai anak yang bernama Syuraih, Muslim dan Abdullah.” Beliau bertanya lagi:  فَمَنْ أَكْبَرُهُمْ “Di antara mereka siapa yang paling besar?” Ia menjawab, “Syuraih.” Beliau bersabda:  فَأَنْتَ أَبُو شُرَيْحٍ “Kalau begitu nama panggilanmu adalah Abu Syuraih (Bapaknya Syuraih).” (HR. Abu dawud dan Nasai, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2615) 

Tidak pantas bagi seseorang melanggar hukum Allah yang berupa melanggar syariat-Nya, karena hukum Allah berisikan kebaikan, keadilan dan kebijaksanaan. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk mengatakan :

 أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلا وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُالْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ 

Maka Patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, Padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali Termasuk orang yang ragu-ragu. (QS. Al-An’am: 114) 

Maka ucapan seorang mu’min apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sebuah perkara adalah “kami mendengar dan kami taat”. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَاوَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur: 51) 

DOA PERMOHONAN 

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam agar mengucapkan doa:

 قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَفِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ 

Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya.” (QS. Az-Zumar: 46) 

Dan diantara doa iftitah yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallamdalam shalat malamnya adalah:

 اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِوَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ. اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِمِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ 

Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) di antara hamba-hambaMu tentang apa yang mereka (orang-orang kristen dan yahudi) perselisihkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran dari apa yang dipertentangkan dengan seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.(HR. Muslim 1847) 

Dan diantara bentuk kedalaman sikap ridha terhadap keputusan Allah adalah berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama Al-Hakam, sebagaimana Nabi Nuh berdoa untuk keselamatan putranya saat banjir telah mencapai puncak gunung, dan beliau menampakkan sikap ridhanya terhadap keputusan Allah. Allah Subhanahu wata’alaberfirman:

 وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُالْحَاكِمِينَ 

"dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud: 45)

Merenungkan Makna Al-Hakam

1. Keterbatasan Manusia

Sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa keterbatasan kita dalam memahami rencana dan ketetapan Allah. Kita sering kali merasa bingung dan tidak mengerti mengapa sesuatu terjadi, tetapi kita harus ingat bahwa Allah yang Maha Menetapkan memiliki hikmah di balik setiap ketetapan-Nya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, Allah berfirman:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'”

2. Kebijaksanaan Allah

Kebijaksanaan Allah sebagai Al-Hakam menunjukkan bahwa setiap keputusan dan ketetapan-Nya memiliki alasan yang kuat dan baik. Dalam Surah Al-Imran ayat 54, Allah berfirman:

“Dan mereka merencanakan, dan Allah juga merencanakan, dan Allah sebaik-baik Perencana.”

Kita perlu percaya bahwa setiap ketetapan-Nya adalah bagian dari rencana-Nya yang lebih besar.

3. Kesabaran dan Ketekunan

Menghadapi ujian hidup membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Allah yang Al-Hakam melihat setiap usaha dan kesabaran kita. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 153, Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih tegar dalam menghadapi tantangan.

4. Pertanggungjawaban

Sifat Al-Hakam juga mengingatkan kita bahwa setiap tindakan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam Surah Al-Isra ayat 36, Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.”

Kita perlu sadar bahwa semua tindakan kita tercatat dan akan mendapatkan balasan di akhirat.




Komentar

Postingan Populer