F60.4 GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK

Gangguan kepribadian histrionik (HPD) adalah kondisi kejiwaan kronis yang bertahan lama yang ditandai dengan pola perilaku mencari perhatian yang terus-menerus dan tampilan emosional yang berlebihan. Kondisi ini biasanya berlangsung seumur hidup dan resisten terhadap pengobatan, dengan onset yang biasanya terjadi pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. 

Individu dengan HPD sering digambarkan sebagai orang yang menggoda, memanjakan diri sendiri, genit, dramatis, ekstrovert, dan bersemangat, dan mungkin merasa kurang dihargai atau diabaikan saat mereka tidak menjadi pusat perhatian. Individu dengan HPD dapat menjadi bersemangat, mempesona, terlalu menggoda, atau seksual yang tidak tepat. Mereka biasanya menunjukkan emosi yang berubah dengan cepat dan dangkal yang mungkin dianggap tidak tulus oleh orang lain. 

Akar perilaku histrionik dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno ketika dokter Yunani dan Romawi mengamati individu yang menunjukkan sandiwara dan ekspresi emosional yang berlebihan. Orang-orang ini digambarkan sebagai “histeris”-sebuah istilah yang berasal dari kata Yunani “histeria”, yang berarti rahim-karena perilaku ini diyakini hanya dimiliki oleh wanita dan disebabkan oleh gangguan pada rahim. 

Pada akhir abad ke-19, selama era psikoanalisis, Sigmund Freud berkontribusi pada pemahaman perilaku histrionik. Ia mengusulkan konsep “histeria” sebagai gangguan psikologis yang terutama memengaruhi wanita dan ditandai dengan emosi yang berlebihan dan perilaku mencari perhatian. Teori Freud, meskipun kontroversial dan sering dikritik, meletakkan dasar bagi eksplorasi gejala dan perilaku histrionik. 

Beberapa gejala yang diperlihatkan penyandang HPD antara lain:

  • Mudah marah.
  • Gelisah saat tidak mendapat perhatian.
  • Cenderung berpakaian atau berperilaku provokatif.
  • Emosi yang berubah-ubah secara drastis.
  • Berperilaku berlebihan atau dramatis.
  • Gaya bicara dibuat-buat dengan nada dan volume nyaring.
  • Egois atau kurang peduli pada orang lain.
  • Sulit menerima masukan atau kritik.
  • Mudah stres.
  • Kerap membuat keputusan yang terburu-buru.
  • Mudah terpengaruh atau dibujuk.
  • Kerap memanfaatkan fisiknya untuk menarik perhatian, contohnya dengan menggunakan pakaian terbuka.
  • Cenderung menyalahkan orang lain saat gagal melakukan suatu hal.

Untuk menentukan seseorang mengalami kondisi HPD, digunakan lima kriteria dari DSM V, yaitu:

  • Tidak nyaman jika tidak menjadi pusat perhatian
  • Interaksi dengan orang lain yang cenderung menggoda secara seksual dan provokatif
  • Memperlihatkan perubahan emosi yang sangat cepat dan dangkal
  • Secara konsisten menggunakan daya tarik fisik untuk menarik perhatian orang lain
  • Gaya bicara yang sangat memukau, impresionistik, namun kurang mendetail
  • Memperlihatkan dramatisasi kondisi diri sendiri, teatrikal, dan ekspresi yang berlebihan
  • Mudah dipengaruhi orang lain
  • Menganggap sebuah hubungan lebih intim dari yang seharusnya 

Kluster Gangguan Kepribadian dalam DSM-5-TR

DSM-5-TR membagi gangguan kepribadian ke dalam klaster A, B, dan C, masing-masing mencakup serangkaian gangguan kepribadian yang berbeda dengan kesamaan dalam hal gejala, perilaku, dan pola psikologis yang mendasarinya.

Klaster A: Klaster A mencakup gangguan kepribadian dengan karakteristik yang aneh atau eksentrik. Ini termasuk gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal. Individu dalam klaster ini menunjukkan penarikan diri secara sosial, ketidakpercayaan, dan kesulitan dalam membentuk hubungan yang dekat.

Klaster B: Klaster B mencakup gangguan kepribadian dengan perilaku yang dramatis, emosional, atau tidak menentu. Klaster ini mencakup HPD bersama dengan gangguan kepribadian antisosial, borderline, dan narsistik. Individu dalam klaster ini biasanya menunjukkan tindakan impulsif, ketidakstabilan emosi, dan tantangan dalam mempertahankan hubungan yang stabil.

Klaster C: Klaster C mencakup gangguan kepribadian dengan karakteristik cemas dan takut. Ini termasuk gangguan kepribadian menghindar, tergantung, dan obsesif-kompulsif. Individu dalam klaster ini cenderung mengalami kecemasan yang signifikan, takut ditinggalkan, dan kebutuhan yang berlebihan akan kontrol atau perfeksionisme. 

Terlepas dari konteks historis penggunaan sistem “klaster”, terdapat keterbatasan ketika mendekati gangguan kepribadian. Sementara diagnosis HPD memberikan kerangka kerja untuk memahami dan mempelajari perilaku-perilaku ini, perdebatan yang sedang berlangsung di bidang psikologi dan psikiatri berkisar pada sifat dan validitas gangguan kepribadian, termasuk HPD. Pemahaman kita tentang sifat dan perilaku histrionik terus berkembang.

Ciri-ciri Temperamen

Individu dengan HPD menunjukkan ciri-ciri temperamen yang spesifik, seperti yang disebutkan di bawah ini.

  • Menghindari bahaya: Individu dengan HPD cenderung menunjukkan penghindaran bahaya yang rendah, menunjukkan bias terhadap perilaku yang menghambat yang dapat menyebabkan hukuman atau tanpa imbalan.
  • Mencari hal baru: Individu dengan HPD biasanya menunjukkan perilaku mencari hal baru yang tinggi, ditandai dengan kecenderungan kuat untuk memulai aktivitas baru yang cenderung menghasilkan sinyal hadiah.
  • Ketergantungan pada hadiah: Individu dengan HPD menunjukkan ketergantungan hadiah yang tinggi, yang menunjukkan keinginan kuat untuk terlibat dalam perilaku yang didorong oleh isyarat hadiah sosial.
  • Kegigihan: Individu dengan HPD biasanya menunjukkan kegigihan yang rendah, yang mengacu pada kemampuan untuk mempertahankan upaya dan bertahan dengan perilaku meskipun ada rintangan, frustrasi, kelelahan, atau penguatan yang terbatas.
Penelitian mengenai etiologi HPD masih terbatas, dengan hanya sedikit penelitian berkualitas tinggi yang tersedia. Beberapa faktor diyakini berkontribusi terhadap perkembangan HPD, termasuk kecenderungan genetik, pengalaman masa kecil, dan pengaruh lingkungan.

Namun, perdebatan masih terus berlanjut tentang seberapa penting faktor-faktor ini. Pelecehan dan penelantaran anak, terutama pelecehan seksual pada anak, diidentifikasi sebagai faktor risiko yang signifikan untuk HPD. 

Studi genetik mengusulkan adanya komponen keturunan dalam gangguan kepribadian, termasuk HPD. Penelitian yang melibatkan anak kembar menunjukkan bahwa faktor genetik dan lingkungan berkontribusi pada etiologi HPD. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor genetik berkontribusi terhadap kerentanan HPD. Namun, gen spesifik atau mekanisme genetik yang terlibat dalam HPD masih belum dapat dijelaskan.

Epidemiologi

Penelitian berkualitas tinggi dan multi-populasi untuk mengukur prevalensi HPD secara akurat masih sangat kurang, dan banyak penelitian yang sudah ada sudah ketinggalan zaman sehingga membatasi penerapannya. Sekitar 9% dari populasi umum dipengaruhi oleh setidaknya satu gangguan kepribadian, dengan prevalensi HPD diperkirakan berkisar antara 0,4% hingga 0,6% hingga setinggi 1,8%. Wanita didiagnosis dengan HPD pada tingkat sekitar 4 kali lebih tinggi daripada pria.

Namun, mungkin ada kecenderungan untuk mendiagnosis wanita secara berlebihan dengan gangguan ini dibandingkan dengan pria, mungkin karena norma-norma masyarakat di mana keterbukaan seksual kurang dapat diterima oleh wanita. Sebaliknya, pria mungkin kurang terdiagnosis. 

HPD sering kali bersifat ego-syntonic, yang berarti individu biasanya menganggap perilaku mereka normal dan mungkin kesulitan untuk mengenali masalah apapun. Kurangnya wawasan ini dapat berkontribusi pada kurang terdiagnosis hingga di kemudian hari ketika pola perilaku secara signifikan mengganggu hubungan, pekerjaan, atau kesejahteraan interpersonal.

Sejarah dan Fisik

Presentasi HPD sangat bervariasi. Oleh karena itu, mendapatkan riwayat medis dan sosial yang komprehensif sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang akurat. Anggota keluarga mungkin sering kali memulai rujukan untuk evaluasi, karena individu dengan HPD biasanya tidak menganggap perilaku mereka bermasalah. Mereka mungkin menunjukkan kepekaan yang berlebihan terhadap kritik dan terlibat dalam pola bicara yang bertujuan untuk memikat atau mempengaruhi dokter yang mengevaluasi.

Riwayat pasien dapat sangat bervariasi, dan individu dengan HPD dapat menekankan topik yang dirancang untuk memancing reaksi, seperti mendiskusikan riwayat seksual atau mensimulasikan kondisi medis. Penelitian telah mengeksplorasi prevalensi kekerasan seksual di antara mereka yang memiliki HPD. Pemeriksaan status mental yang dilakukan selama evaluasi psikiatri sangat penting untuk penilaian. Namun, elemen dan temuan spesifik dari pemeriksaan ini dapat bervariasi tergantung pada riwayat pasien dan konteks kasus.  

Penilaian

Dokter mengevaluasi berbagai aspek perilaku pada individu dengan HPD, termasuk penampilan, pola perilaku, dan karakteristik bicara.

Penampilan: Dokter harus mengamati perawatan dan pilihan busana pasien dengan cermat. Individu dengan HPD sering berpakaian provokatif atau mencari perhatian, yang mungkin termasuk pakaian yang terbuka, tato yang sugestif atau ekstensif, rambut berwarna cerah, gaya rambut eksentrik, dan banyak aksesori.

Perilaku: Individu dengan HPD menunjukkan perilaku yang eksentrik dan tidak terkendali. Mereka mungkin menunjukkan perilaku yang membelah diri tergantung pada jalannya wawancara psikiatris. Perilaku tambahan dapat berupa bercerita secara dramatis, gerakan hiperseksual, dan mencari perhatian melalui tindakan dramatis.

Bicara: Individu dengan HPD sering berbicara dengan keras dan dramatis. Pidato mereka cenderung impresionistik dan kurang detail. Mereka biasanya tidak menunjukkan kekurangan dalam inisiasi bicara atau kosakata.

Proses berpikir: Pada individu dengan HPD, proses berpikir umumnya linier tetapi mungkin terbatas dalam jangkauan dan logika. Mereka sering menunjukkan sugestibilitas yang tinggi dan mudah dipengaruhi oleh pikiran dan pendapat orang-orang di sekitarnya.

Kognisi: Individu dengan HPD biasanya menunjukkan kognisi dan orientasi yang normal.

Kontrol impuls: Individu dengan HPD sering kali berjuang dengan kontrol impuls yang buruk, yang mengarah pada keterlibatan berbagai perilaku patologis.

Penghakiman: Individu dengan HPD mungkin menunjukkan penilaian yang buruk.

Wawasan: Karena HPD dianggap sebagai ego-syntonic, individu dengan gangguan ini sering kali tidak memiliki wawasan tentang kondisi mereka dan dampak perilaku mereka terhadap fungsi sosial dan pekerjaan. 

Evaluasi

Mendiagnosis gangguan kepribadian melibatkan pengamatan longitudinal terhadap pola perilaku pasien dalam berbagai konteks dan keadaan untuk memahami fungsi jangka panjang mereka secara komprehensif. Banyak ciri-ciri gangguan kepribadian yang tumpang tindih dengan gejala-gejala kondisi kejiwaan akut, sehingga menimbulkan tantangan dalam pembedaan dengan gangguan kejiwaan komorbiditas lainnya. Dalam beberapa kasus, observasi yang diperpanjang mungkin tidak layak atau perlu dilakukan, terutama ketika gangguan kepribadian yang mendasari secara substansial berkontribusi pada rawat inap atau memperburuk kondisi kejiwaan lain (seperti episode depresi berat). Menegakkan diagnosis yang pasti biasanya membutuhkan beberapa sesi dengan pasien.

Untuk mendapatkan diagnosis formal HPD, individu harus memenuhi kriteria diagnostik yang ditentukan dalam DSM-5-TR. Diagnosis melibatkan evaluasi komprehensif yang menggabungkan berbagai sumber informasi, seperti riwayat pribadi, laporan jaminan, dan pemeriksaan status mental. Penilaian menyeluruh ini memungkinkan dokter untuk secara efektif mengevaluasi gejala, fungsi, dan presentasi keseluruhan individu.

Pola perilaku emosional yang berlebihan dan pencarian perhatian yang meresap dimulai pada masa dewasa awal dan berlanjut di berbagai konteks. Gambaran klinis meliputi setidaknya 5 perilaku berikut ini:

  • Tidak nyaman ketika tidak menjadi pusat perhatian
  • Interaksi dengan orang lain terlalu seksual, tidak pantas, atau provokatif
  • Emosi yang cepat berubah dan dangkal
  • Secara konsisten menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian
  • Ucapan yang impresionistik, tidak jelas, dan kurang detail
  • Ekspresi emosi yang berlebihan yang bersifat teatrikal dan mendramatisasi diri sendiri
  • Mudah terpengaruh oleh orang lain atau keadaan
  • Persepsi bahwa hubungan lebih intim daripada yang sebenarnya

Perawatan / Pengelolaan

Psikoterapi adalah pengobatan utama untuk gangguan kepribadian, meskipun bukti efektivitasnya dalam mengobati HPD masih terbatas. Pandangan umum yang berlaku adalah bahwa HPD adalah kondisi yang berlangsung seumur hidup dan resisten terhadap pengobatan. Sebagian besar penelitian melaporkan kemanjuran yang rendah dalam mengobati HPD, dengan tingkat remisi gejala yang rendah dan kegagalan untuk mencapai tingkat fungsi normatif. Mengembangkan dan mempertahankan hubungan terapeutik sangat penting dalam mengobati gangguan kepribadian. Individu dengan HPD sering kali tidak mengenali penyakit mereka dan mungkin menolak gagasan untuk berobat. Karena HPD tidak mungkin sembuh tanpa intervensi, fokus pengobatan mungkin adalah mengurangi konflik interpersonal dan menstabilkan fungsi psikososial.

Teknik psikoterapi telah diselidiki sebagai pengobatan potensial untuk HPD, menghasilkan temuan yang umumnya beragam. Sebuah penelitian terhadap 159 pasien dengan HPD menunjukkan perbaikan dengan psikoterapi yang berorientasi pada klarifikasi. Aliansi terapeutik sangat penting dalam mengobati HPD, seperti halnya dengan semua gangguan kepribadian. Obat-obatan psikotropika umumnya tidak efektif untuk HPD, dan agen yang disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) tidak tersedia untuk pengobatan tersebut, tetapi mengobati kondisi kejiwaan komorbiditas dengan obat-obatan psikotropika kemungkinan dapat memperbaiki gejala. 

Dari segi obat-obatan, tidak ada obat yang secara langsung mengobati HPD, namun kondisi depresi yang bisa terjadi pada penyandangnya bisa diatasi dengan anti depresan. Selain itu bisa diberikan beberapa terapi seperti terapi kelompok, terapi psikodinamik, terapi suportif, dan terapi kognitif


Komentar

Postingan Populer