Impulse Control Disorder - ICD
Dewasa awal atau dewasa muda adalah tahap awal remaja memasuki tahap kedewasaan. Dewasa muda mempunyai tanggung jawab untuk segala sesuatu yang terjadi pada dirinya, termasuk tanggung jawab untuk menempuh ilmu. Menurut Fendyanto, M.Psi., Psikolog., dosen psikologi di Universitas Kristen Maranatha, dalam bidang keilmuan psikologi Impulsive Control Disorder (ICD) adalah sebuah gangguan yang sering nampak pada dewasa muda. Maka dalam usia tersebut dewasa muda membutuhkan banyak latihan mengendalikan diri untuk dapat berperilaku produktif.
Impulse Control Disorder (ICD) adalah keadaan dimana individu tidak dapat menolak suatu impuls (dorongan) untuk mencapai sebuah reward (kesenangan) dan dilakukan tanpa berpikir panjang. Impulsif adalah elemen kunci dari banyak gangguan kejiwaan lainnya. Kondisi kejiwaan ini mempengaruhi penurunan individu yang signifikan dalam fungsi sosial dan pekerjaan. ICD dikategorikan sebagai gangguan psikiatri di bawah DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders).
Individu-individu yang mengalami gangguan kontrol impuls kurang mampu melawan dorongan batin mereka. Sehingga ICD merupakan permasalahan yang dampaknya cukup besar terhadap produktivitas pelajar juga terhadap karakter dan fisik pelajar tersebut. Karena ketidakmampuan melawan dorongan kuat ini, konsentrasi dalam bekerja dengan mudah terpecah, sehingga pekerjaan tertunda dan efektifitas waktu terganggu, seperti waktu tidur, makan dapat menjadi tidak teratur.
Gejala Gangguan Kontrol Impuls
Gejala impulse control disorders pada setiap penderitanya bisa berbeda-beda, tergantung dari jenis yang diidapnya. Namun, secara umum, gejala utama gangguan kontrol impuls adalah munculnya tindakan yang berbahaya dari orang lain tanpa ia memikirkan sebab dan akibatnya. Lebih spesifik lagi, berikut adalah sejumlah gejala impulse control disorders dari segi perilaku, fisik, psikososial, dan kognitifnya.
Gejala perilaku:
Sering terlibat dalam perilaku atau aktivitas yang berisiko.
Sering berbohong.
Sering mencuri.
Suka menarik rambut.
Berbohong.
Melakukan kekerasan terhadap orang lain.
Melakukan perusakan properti.
Membangkang.
Kabur tanpa sebab yang jelas.
Gejala fisik:
Sering terluka saat menyalakan api.
Rambut rontok.
Cedera fisik akibat perilaku tertentu, misalnya saat melakukan perusakan properti.
Timbulnya infeksi menular seksual atau penyakit infeksi lainnya akibat perilaku yang impulsif.
Gejala psikososial:
Agitasi.
Agresi.
Kecemasan.
Perasaan tertekan.
Merasakan ketegangan.
Harga diri rendah.
Perasaan bersalah.
Penyesalan.
Perubahan suasana hati yang ekstrem.
Isolasi sosial.
Gejala kognitif:
Dorongan yang kuat terhadap sesuatu.
Terobsesi akan sesuatu.
Sulit mengendalikan emosi.
Sulit berkonsentrasi.
Pikiran yang mengganggu.
Diagnosis Gangguan Kontrol Impuls
Dokter mendiagnosis impulse control disorders berdasarkan kriteria yang ada dalam DSM-5. Gejala yang mengarah pada kondisi ini setidaknya harus terjadi selama 6 bulan, serta sudah mengganggu kehidupan pasien sehari-hari. Di samping itu, dokter juga akan melakukan anamnesis (wawancara medis) dan penilaian khusus kepada pasien.
Kondisi gangguan kontrol impuls jarang disadari oleh penderitanya. Alhasil, psikiater maupun psikolog justru sering melakukan tanya jawab dari orang-orang yang dekat dengan pasien, seperti orang tua, saudara, teman, dan guru, untuk membantu menegakkan diagnosis.
Penyebab Impulsif
Melansir dari laman sehatq.com, perilaku ini wajar dilakukan oleh anak-anak atau remaja. Sebab, otak mereka masih dalam perkembangan sehingga perilaku impulsif belum tentu menjadi pertanda masalah.
Penyebab perilaku impulsif memang belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun, hal ini dikaitkan dengan bagian otak hipotalamus dan hippocampus. Hippocampus sendiri mengambil peran aktif dalam daya ingat, eosi, dan pembelajaran. Sementara, hipotalamus memiliki peran sebagai pengatur suasana hati (mood) dan fungsi perilaku manusia.
Ketika para peneliti melakukan riset dengan meningkatkan atau mengurangi lalu lintas antara hipotalamus dan hippocampus ventral pada otak tikus. Muncul dampak yang sama, yakni peningkatan perilaku impulsif. Di sisi lain, faktor genetik juga dianggap memiliki peran penting.
Namun, perilaku impulsif juga dapat menjadi pertanda berbagai kondisi sebagai berikut.
1. Gangguan Pemusatan Perhatian (ADHD)
Impulsif dapat menjadi salah satu pertanda seseorang mengalami gangguan pemusatan perhatian (ADHD). Seseorang yang mengalami ganggyan pemusatan perhatian tidak jarang menunjukkan perilaku impulsifnya dengan mengganggu orang lain yang sedang berbicara, sulit menunggu giliran ketika berada dalam antrean, dan/atau meneriakkan jawaban dari suatu pertanyaan.
2. Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar dapat mempengaruhi suasana hati, tingkat energi, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika perilaku impulsif muncul pada seseorang yang mengalami gangguan bipolar maka ia mampu berbelanja atau menghamburkan uang dengan sangat ekstrem bahkan melakukan penyalahgunaan zat-zat tertentu.
3. Gangguan Kepribadian Antisosial
Gangguan kepribadian antisosial mampu membuat seseorang tidak dapat memperhatikan benar dan salah. Serta memperlakukan orang lain dengan buruk rupa tanpa memikirkan konsekuensinya. Perilaku impulsif yang berkaitan dengan kondisi ini adalah penyalahgunaan zat tertentu atau tindakan berbahaya lainnya.
Masa remaja menjadi masa transisi dan sering kali melakukan tindakan impulsif. Buku “Psikologi Remaja” karya Sarlito W. Sarwono dapat menjadi pilihan bagi orang tua atau orang dewasa terdekat remaja untuk mengenali kondisi psikologi yang dialami remaja. Secara umum, buku ini berisi mengenai masa remaja yang menjadi masa transisi dari anak ke dewasa.
Menghadapi remaja memang bukan pekerjaan mudah. Untuk memahami jiwa remaja dan mencari solusi yang tepat bagi permasalahannya, maka penting bagi kita memahami remaja dan perkembangan psikologisnya yaitu konsep diri, intelegensi, emosi, seksual, motif sosial, moral dan religi. Kajian dalam buku ini mengenai psikologi remaja ditinjau dari segi teoritis perkembangan fisik, psikologis remaja, serta perilaku dan penyimpangan/kenakalan remaja dapat memberikan referensi yang penting bagi mahasiswa, pendidik, konsultan dan aparat yang berkecimpungan dalam permasalahan remaja, serta yang tidak kalah penting adalah orang tua.
Cara Mengatasi Gangguan Kontrol Impuls
Hingga kini, belum ada obat yang efektif untuk mengatasi gangguan kontrol impuls. Sehingga, kondisi ini biasanya diatasi dengan terapi dan penyesuaian strategi pengasuhan. Adapun beberapa jenis terapi yang umumnya disarankan pada penderita gangguan kontrol impuls adalah sebagai berikut:
Parent management training (PMT): Melibatkan pengajaran teknik-teknik kepada orang tua atau pengasuh untuk membantu anak mereka memperbaiki perilaku dan mempelajari keterampilan baru.
Multisystemic therapy (MST): Jenis terapi ini melibatkan dukungan keluarga untuk mendorong pasien melakukan tindakan positif dan mengurangi perilaku negatif.
Family therapy: Terapi keluarga bertujuan untuk menilai bagaimana interaksi antara anggota keluarga dapat berkontribusi terhadap perilaku mengganggu pada anak. Terapi ini juga berfungsi untuk mengidentifikasi pola berpikir, hubungan, dan interaksi yang berulang dalam keluarga untuk meningkatkan hubungan baik dan mencegah perilaku berbahaya.
Social skills training: Pelatihan keterampilan sosial dapat membantu anak-anak dan remaja penderita ODD dan/atau OCD untuk meningkatkan hubungan dan interaksi sosial sehari-hari, bagaimana cara merespons situasi dengan tepat, dan cara berkomunikasi yang lebih efektif.
Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy): Tujuan dari terapi ini adalah menghilangkan pikiran dan perilaku negatif dan belajar mengadopsi pola pikir yang lebih sehat.
Terapi obat-obatan: Dalam beberapa kasus, dokter mungkin dapat meresepkan obat-obatan untuk mengatasi gejala tertentu dari gangguan kontrol impuls. Dokter juga mungkin dapat meresepkan obat untuk mengatasi kondisi kesehatan mental yang dialami penderita seperti gangguan kecemasan, ADHD, atau depresi.
Jika tidak ditangani, gangguan kontrol impuls dapat menimbulkan konsekuensi negatif yang serius, antara lain:
Masalah hukum.
Rusaknya hubungan sosial dengan orang lain atau orang terdekat.
Prestasi buruk di sekolah.
Kehilangan pekerjaan.
Penyalahgunaan zat terlarang.
Gangguan kontrol impuls perlu segera ditangani agar tidak membahayakan penderita maupun orang-orang di sekitarnya. Bila terjadi pada anak, kondisi ini harus segera diatasi agar tidak mengganggu perkembangan anak.
Komentar
Posting Komentar