Gangguan Kepribadian Dependen F60.7

 Gangguan kepribadian VS Perubahan kepribadian

Perbedaanya terletak pada waktu dan cara terjadinya. Gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan, yang timbul pada masa kanak atau remaja dan berlanjut pada masa dewasa. Gangguan kepribadian bukan keadaan sekunder dari gangguan jiwa lain atau penyakit otak, meskipun dapat mendahului dan timbul bersamaan dengan gangguan lain.

Peruahan kepribadian adalah suatu proses yang didapat, biasanya pada usia dewasa, setelah stress berat atau berkepanjangan , deprivasi lingkungan yang ekstrim, gangguan jiwa yang parah atau penyakit/cidera otak.

Gangguan kepribadian dibagi menurut kelompok dari sifat yang menyerupai manifestasi perilaku yang paling sering atau yang paling menonjol.

Pengertian

Dependent Personality Disorder (DPD) atau Gangguan Kepribadian Dependen adalah salah satu gangguan kepribadian yang paling sering didiagnosis. Gangguan Kepribadian Dependen menyebabkan perasaan tidak berdaya, kebutuhan untuk diperhatikan dan untuk kepastian terus-menerus, dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa nasihat dan kepastian yang berlebihan dari orang lain atau dukungan pihak lain.

Kepribadian merupakan cara berpikir, merasakan, dan berperilakunya seseorang. Gangguan kepribadian memengaruhi cara orang berpikir atau bertindak, membuat mereka berperilaku berbeda dari waktu ke waktu. Dependent Personality Disorder (DPD) adalah salah satu dari 10 jenis gangguan kepribadian. Dependent Personality Disorder (DPD) biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau pada saat menginjak usia 29 tahun. Gangguan kepribadian ini terjadi sama pada pria dan wanita dan biasanya terlihat pada masa dewasa muda atau setelahnya sebagai bentuk hubungan dewasa yang penting.

Penderita Dependent Personality Disorder (DPD) memiliki kebutuhan yang sangat besar untuk meminta orang lain mendukung mereka dalam hal kebutuhan emosional atau fisiknya. Orang dengan DPD mungkin mempercayai bahwa mereka tidak dapat menjaga diri mereka sendiri, kesulitan dalam membuat keputusan sehari-hari, misalnya : baju apa yang akan dikenakan, tanpa masukan dari orang lain.

Seseorang dengan gangguan kepribadian dependen sering terlihat pasif dan tidak percaya akan kemampuan dirinya. Hal tersebut berdampak terhadap kemampuan mereka dalam menjalani hidup, terutama dalam bersosialisasi dan bekerja. Mereka tidak memiliki kesanggupan untuk hidup mandiri serta selalu diliputi rasa takut karena ditinggalkan oleh orang lain. Saat mereka sedang sendiri, hal ini membuat diri mereka tidak merasa nyaman maupun tidak berdaya. Pada akhirnya, hal ini akan menimbukan mereka ketergantungan pada orang lain.

Gejala Gangguan Kepribadian Dependen 

Tanda dari gangguan kepribadian dependen akan cenderung sulit dikenali jika penderitanya masih dalam usia anak-anak atau remaja. Seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan kepribadian dependen saat ia memiliki ketergantungan berlebih terhadap orang lain ketika memasuki usia dewasa awal. 

Pada fase usia tersebut, kepribadian dan pola pikir seseorang cenderung menetap dengan lebih sedikit perubahan. Selain itu, orang dengan gangguan kepribadian dependen cenderung memiliki rasa takut terpisah. 

Karakteristik umum lainnya dari gangguan kepribadian ini meliputi: 

a. Ketidakmampuan untuk membuat keputusan, bahkan untuk keputusan sehari-hari seperti apa yang akan dikenakan dan selalu meminta saran serta jaminan dari orang lain.

b. Menghindari tanggung jawab orang dewasa dengan bertindak pasif dan tak berdaya; ketergantungan pada pasangan atau teman untuk membuat keputusan untuk bekerja dan hidup. 

c. Ketakutan yang intens ditinggalkan dan rasa kehancuran atau tidak berdaya ketika hubungan berakhir. Seseorang dengan gangguan kepribadian dependen sering cepat berganti pasangan ketika hubungan sebelumnya berakhir. 

d. Terlalu peka terhadap kritik. 

e. Pesimisme dan kurangnya rasa percaya diri yang tinggi. Penderita memiliki keyakinan bahwa mereka tidak mampu merawat diri mereka sendiri. 

f. Menghindari untuk mengungkapkan ketidaksetujuan dengan orang lain karena takut kehilangan dukungan atau persetujuan. 

g. Sulit melakukan semuanya sendiri. 

h. Mudah mentolerir perlakuan dan pelecehan dari orang lain. 

i. Menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. 

j. Kecenderungan untuk menjadi naif dan berfantasi.

Penyebab pasti Dependent Personality Disorder (DPD) tidak diketahui, kemungkinan besar melibatkan kombinasi faktor biologis, perkembangan, temperamen, dan psikologis. Dipercaya gaya pengasuhan yang otoriter atau terlalu protektif dapat mengarah pada perkembangan sifat kepribadian yang ketergantungan pada orang lain; yang kemudian menjadi rentan terhadap gangguan ini.

Secara umum bahwa Dependent Personality Disorder (DPD) lebih mungkin terjadi pada orang dengan pengalaman hidup tertentu, antara lain adalah :

1) Hubungan yang Kasar atau Keras.

Orang yang memiliki riwayat hubungan yang kasar dan keras memiliki risiko diagnosis Dependent Personality Disorder (DPD) yang lebih tinggi.

2) Trauma Masa Kecil.

Jika anak-anakmengalami pelecehan (termasuk pelecehan yang bersifat verbal) atau penelantaran dapat berpotensi mengarah pada Dependent Personality Disorder. Pengalaman traumatis masa kecil dapat mempengaruhi perilaku seseorang secara signifikan saat mereka bertambah dewasa. Pengalaman traumatis, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan orang mengalami mimpi buruk, kilas balik, dan mereka dapat mengembangkan masalah perilaku; termasuk DPD.

3) Riwayat Keluarga.

Seseorang dengan anggota keluarga yang menderita DPD atau gangguan kecemasan lainnya mungkin lebih cenderung memiliki resiko terhadap diagnosis DPD.

4) Perilaku Budaya, Agama atau Keluarga.

Perilaku atau praktik Budaya, Agama atau kebiasaan Keluarga tertentu yang bernuansa menekankan ketergantungan pada otoritas; dapat berpotensi berkembangnya DPD pada individu.

Gangguan Kepribadian Cluster C

Menurut DSM-5 Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Dependent Personality Disorder (DPD) atau Gangguan Kepribadian Dependen adalah gangguan Cluster C. Gangguan kepribadian Cluster C ditandai dengan kecemasan, pemikiran atau perilaku yang menakutkan. Mereka termasuk gangguan kepribadian menghindar, gangguan kepribadian dependen dan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Gangguan kepribadian Cluster C lainnya termasuk penghindaran dan obsesif-kompulsif. Sebagian besar, orang yang memiliki gangguan Cluster C menderita pikiran dan perilaku yang menakutkan atau cemas.

Diagnosis 

Gangguan Kepribadian Dependen Penderita gangguan kepribadian dependen akan dirujuk ke psikiater atau profesional kesehatan mental. Dokter akan bertanya tentang gejala dan memeriksa kesehatan mental serta riwayat medis. Diagnosis akan disampaikan setelah pemeriksaan jiwa secara keseluruhan, hal ini dilakukan untuk menyingkirkan faktor penyakit lain. 

Psikiater dan psikolog menggunakan wawancara yang dirancang khusus dan alat penilaian untuk mengevaluasi seseorang dengan gangguan kepribadian. Meskipun tidak ada tes laboratorium yang secara khusus bisa mendiagnosa gangguan kepribadian, dokter mungkin menggunakan berbagai tes diagnostik untuk menyingkirkan penyakit fisik sebagai penyebab gejala. 

Penanganan Gangguan Kepribadian Dependen 

Gangguan kepribadian dependen cenderung bertahan dalam waktu yang lama namun dapat mengalami penurunan intensitas seiring dengan pertambahan usia. Terapi dalam mengatasi gangguan kepribadian dependen cenderung tidak menggunakan obat namun melalui psikoterapi dengan metode terapi bicara. 

Tujuan utama dari terapi ini adalah menumbuhkan kepercayaan diri untuk bersosialisasi dan membantu penderita memahami kondisinya. Biasanya terapi bicara dilakukan dalam jangka pendek, karena jika dilakukan dalam jangka panjang penderita juga berisiko mengalami ketergantungan terhadap si terapis. 

Ada 3 jenis terapi psikologis yang dilakukan pada pengobatan gangguan kepribadian ini, diantaranya: 

a. Terapi interpersonal

Terapi yang didasarkan pada teori jika kesehatan mental individu akan dipengaruhi interaksi seseorang dengan orang lainnya. Sehingga jika terdapat masalah dalam interaksi tersebut maka secara tidak langsung membuat gangguan kepribadian dapat muncul. Sehingga terapi ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah dalam interaksi tersebut. 

b. Terapi perilaku kognitif

Terapi ini bertujuan untuk dapat mengubah pola pikir ataupun perilaku menuju arah yang lebih positif. Terapi ini didasarkan pada sebuah teori jika perilaku individu adalah wujud dari pikirannya sendiri. Sehingga jika seseorang memiliki pikiran yang negatif maka tentu saja perilaku yang diperlihatkan juga negatif begitupun sebaliknya. 

c. Terapi psikodinamik

Terapi ini bertujuan untuk mengeksplorasi serta membenahi bentuk penyimpangan yang terjadi pada pasien yang telah terlihat pada masa anak anak. 

Hingga kini belum ada cara ampuh yang bisa mencegah gangguan kepribadian dependen. Akan tetapi, berolahraga secara teratur, menjauhi obat-obatan terlarang, rutin melakukan relaksasi dan menghindari pola asuh otoriter adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk meringankan gejala.

Referensi :

  1. Web MD; Dependent Personality Disorder
  2. Cleveland Clinic; Dependent Personality Disorder
  3. Psychology Today; Dependent Personality Disorder



Komentar

Postingan Populer