F64.0 TRANSESKSUALISME
F64.0 adalah kode ICD-10-CM untuk transeksualisme. Kode ini digunakan untuk menunjukkan diagnosis transeksualisme, yang merupakan gangguan identitas gender pada remaja dan dewasa.
Untuk menegakkan diagnosis, identitas transeksual harus sudah menentapkan minimal 2 tahun
dan harus bukan merupakan gejala dari gangguan jiwa lain seperti skizofrenia, atau berkaitan
dengan kelainan interseks, genetik, dan kromosom.
Keinginan untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari lawan jenis, biasanya disertai dengan
keinginan untuk membuat tubuh seseorang sebisa mungkin sesuai dengan jenis kelamin yang
diinginkan melalui operasi dan perawatan hormon.
Orang transseksual memiliki identitas gender yang tidak sesuai atau yang secara tradisional tidak berasosiasi dengan seksnya yang ditunjuk serta memiliki keinginan untuk bertransisi permanen agar sesuai dengan gender yang mereka miliki. Orang transseksual biasanya mencari bantuan medis (lewat terapi penentuan ulang seks) untuk membantu tubuh mereka agar selaras dengan seks atau gender mereka. Istilah transseksual umumnya dinilai sebagai sebuah istilah turunan dari transgender,namun beberapa orang transseksual menolak penggunaan istilah transgender.
Diagnosis medis dapat dilakukan jika seseorang memiliki keinginan untuk hidup dan diterima selaku orang dengan seks yang mereka identifikasi atau jika ia terganggu dan mengalami kesulitan di dalam aktivitas sehari hari.
Hubungan antara transseksual dan transgender
Sekitar pada waktu yang sama dengan terbitnya buku Benjamin, pada tahun 1965, istilah transgender dicetuskan oleh John Oliven. Pada era 1990-an, istilah transseksual telah banyak dilihat sebagai sebuah istilah di dalam istilah transgender. Istilah transgender kini lebih umum digunakan dan banyak orang transgender lebih memilih istilah tersebut ketimbang transseksual. Akan tetapi, istilah transseksual masih tetap digunakan, dan bagi beberapa orang yang mencari bantuan medis untuk mengubah karakteristik seksualnya agar sesuai dengan identitas gender mereka, kata transseksual lebih dipilih.Salah satu pandangan dari orang transseksual yang menolak penggunaan kata transgender adalah bahwa bagi orang yang telah menjalani operasi penentuan ulang seks, anatomi seks mereka telah berubah sementara gender mereka tetap.
Secara historis, salah satu alasan mengapa beberapa orang lebih memilih istilah transseksual ketimbang transgender adalah karena kalangan dunia medis pada era 1950-an hingga 1980-an mendorong pembedaan antara kedua istilah tersebut dan hanya mengizinkan adanya penanganan medis bagi kondisi transseksual.Orang transseksual lainnya mengatakan bahwa orang yang tidak menjalani operasi penentuan ulang seks berbeda dengan orang yang menjalaninya dan masing-masing pun memiliki tujuan sendiri-sendiri. Pendapat tersebut merupakan pendapat yang kontroversial sementara opini lain mengatakan bahwa perbedaan hanya satu prosedur tidak kemudian menggolongkan orang ke kategori yang berbeda. Tidak semua orang tidak menjalani prosedur tersebut karena tidak mau. Beberapa misalnya, karena alasan ekonomi. Alasan lain yang penolakan penggunaan kata transseksual adalah kekhawatiran bahwa istilah tersebut memberikan kesan salah bahwa itu adalah sesuatu mengenai seksualitas sementara yang dimaksud sebenarnya adalah identitas gender. Christine Jorgensen, contohnya—orang pertama yang diketahui secara luas telah menjalani operasi penentuan ulang seks—menolak istilah transseksual dan lebih memilih mengidentifikasi dirinya sebagai trans-gender.
Diagnosis Medis
Entri Transsexualism ("Transseksualisme") muncul di dalam International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems-10 keluaran WHO. ICD-10 menempatkan transseksualisme, transvestisme peran ganda, dan gangguan identitas gender pada anak-anak di dalam kategori gangguan identitas gender. ICD-10 mendeskripsikan transseksualisme sebagai sebuah "... keinginan untuk hidup dan diterima sebagai seorang anggota lawan jenis kelaminnya, biasanya disertai dengan ketidaknyamanan atau tidak pantasnya jenis kelamin fisik seseorang dan memiliki kehendak untuk menjalani pembedahan dan perawatan hormonal untuk membuat tubuhnya sesesuai mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkannya."
World Professional Association for Transgender Health (WPATH) menyebutkan bahwa pemasukan transseksualisme dalam pedoman diagnosis kejiwaan tidak didasarkan pada fakta ilmiah. WPATH telah merekomendasikan penghapusan identitas trans apapun dari bab kesehatan kejiwaan di edisi ICD berikutnya (ICD-11) yang dijadwalkan terbit tahun 2017. Beberapa tenaga kesehatan jiwa juga dinilai tidak sensitif dengan menyebut transseksualisme sebagai "sebuah penyakit" ketimbang sebuah sifat lahiriah seperti yang diyakini individu transseksual.Prinsip 18 dalam Prinsip-Prinsip Yogyakarta juga menyebutkan bahwa identitas gender seseorang bukanlah kondisi medis dan tidak memerlukan penyembuhan.
Transseksualisme juga sebelumnya dicantumkan di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) keluaran American Psychiatric Association (APA). Dengan disahkannya DSM edisi kelima tahun 2013, transseksualisme bukanlah lagi sebuah diagnosis. Diagnosis yang ada saat ini untuk orang transseksual yang mencari pertolongan medis adalah disforia gender. Perubahan tersebut diambil sebagai gambaran dari hasil keputusan para anggota APA bahwa transseksualitas bukanlah sebuah gangguan dan orang transseksual tidak berhak untuk mendapatkan stigma.
Berdasarkan Standards of Care ("Standar Pelayanan") dari WPATH,diagnosis tersebut sering kali dibutuhkan sebagai syarat pencakupan terapi penunjukan ulang seks dalam asuransi. Sementara itu, penempatan gangguan identitas gender dalam kategori gangguan kejiwaan tidak bermaksud memberikan stigma atau diskriminasi terhadap hak seseorang tersebut.
Transseksualisme (khusus untuk transseksualisme laki-laki ke perempuan) dahulu sempat dinamakan Sindrom Harry Benjamin dari nama endrokinolog yang merintis penelitian terhadap kondisi ini. Kini, studi mengenai variasi gender telah memiliki pemahaman yang lebih luas dan lebih mendalam daripada deskripsi awal oleh Harry Benjamin sehingga penggunaan istilah Sindrom Harry Benjamin telah menuai kritik karena mencakup seluruh pengalaman-pengalaman yang berbeda dari orang-orang dengan variasi gender.
Komentar
Posting Komentar