Disforia Gender

Disforia gender adalah perasaan tertekan yang dapat terjadi ketika identitas gender seseorang berbeda dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir.

Beberapa orang transgender dan orang dengan identitas gender yang beragam mengalami disforia gender pada suatu waktu dalam hidup mereka. Orang-orang transgender dan beragam gender lainnya merasa nyaman dengan tubuh dan identitas gender mereka, dan mereka tidak mengalami disforia gender.

Diagnosis untuk disforia gender termasuk dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5). DSM-5 diterbitkan oleh American Psychiatric Association. Diagnosis ini dibuat untuk membantu penderita disforia gender mendapatkan akses ke perawatan kesehatan dan pengobatan yang mereka butuhkan. Diagnosis disforia gender berfokus pada perasaan tertekan sebagai masalahnya, bukan identitas gender.

Berikut karakteristik yang ditunjukkan seseorang dengan gangguan ini.

a. Ada perbedaan yang nyata antara gender yang ia sendiri yakini dan gender yang dipersepsikan orang lain.

b. Pertentangan jenis kelamin dan gender berkelanjutan setidaknya selama enam bulan.

c. Pada anak, keinginan untuk mengubah gender harus nyata dan tampak, serta diutarakan langsung dari individu tersebut.

d. Adanya keinginan gigih untuk hidup dan diperlakukan seperti gender yang ia yakini dan menghilangkan dan/atau mengubah karakteristik seksual mereka.

e. Adanya keyakinan kuat bahwa mereka memiliki perasaan, pola tingkah laku, dan reaksi umum dari gender yang berseberangan dari dirinya.

Sejumlah studi menyebutkan bahwa kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh ketidakselarasan kerja otak, tapi juga penyebab biologis yang terkait dengan perkembangan identitas gender sebelum kelahiran.

Disforia gender mungkin disebabkan oleh suatu kondisi medis langka, seperti hiperplasia adrenal bawaan (congenital adrenal hyperplasia/CAH) atau kondisi interseks (dikenal juga sebagai hermaphroditism).

Pada CAH, janin perempuan memiliki kelenjar adrenalin yang meproduksi hormon seks pria dalam kadar tinggi. Hal ini membuat vagina membengkak sehingga bisa terjadi kesalahpahaman bahwa bayi berjenis kelamin laki-laki. 

Sementara itu, interseks atau hermafroditisme adalah kondisi langka ketika bayi lahir dengan dua alat kelamin, yaitu vagina dan penis.

Komplikasi

Disforia gender dapat memengaruhi banyak bagian kehidupan, termasuk aktivitas sehari-hari. Sebagai contoh, sekolah mungkin sulit bagi orang dengan disforia gender. Hal ini mungkin disebabkan oleh tekanan untuk berpakaian atau bertindak sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Dilecehkan, diejek, atau diintimidasi karena identitas gender juga dapat membuat sangat sulit untuk berprestasi di sekolah. Jika disforia gender membuat sekolah atau pekerjaan menjadi sangat sulit, hasilnya mungkin putus sekolah atau tidak dapat menemukan pekerjaan. Disforia gender dapat menimbulkan masalah dalam hubungan. Kecemasan, depresi, melukai diri sendiri, gangguan makan, penyalahgunaan zat, dan masalah kesehatan mental lainnya juga dapat terjadi. Orang yang mengalami disforia gender sering kali menjadi target diskriminasi dan prasangka. Hal ini dapat menyebabkan stres dan ketakutan yang berkelanjutan. Hal ini disebut stres minoritas gender.

Diagnosis gender dysphoria

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan lebih dahulu meminta pasien menjalani serangkaian tes kesehatan seperti berikut ini.

1. Evaluasi kesehatan perilaku

Dokter akan mengevaluasi pasien untuk mengonfirmasi ketidaksesuaian identitas gender dan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir.

Selain itu, dokter juga mengevaluasi dampak stigma yang melekat pada ketidaksesuaian gender terhadap kesehatan mental Anda serta dukungan apa yang Anda dapatkan dari keluarga dan teman.

2. Diagnosis dengan panduan DSM-5

Dokter akan menggunakan kriteria untuk disforia gender yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association.

Pengobatan gender dysphoria

Pengobatan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan gangguan yang dialami oleh pasien dan keinginan pasien itu sendiri. Pilihan pengobatan meliputi perawatan berikut ini.

1. Terapi medis

Ada dua jenis terapi medis untuk mengatasi disforia gender, yaitu terapi hormon dan operasi. Terapi hormon meliputi hormon feminisasi atau terapi hormon maskulinisasi.

Selain itu, ada pula operasi feminisasi atau operasi maskulinisasi untuk mengubah payudara atau dada, alat reproduksi, fitur wajah, dan pembentukan tubuh.

Perawatan didasarkan pada tujuan pasien, evaluasi risiko dan manfaat penggunaan obat, adanya kondisi lain, serta pertimbangan masalah sosial dan ekonomi pasien.

2. Terapi perilaku

Perawatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis, kualitas hidup, dan pemenuhan diri pasien.

Terapi perilaku tidak dimaksudkan untuk mengubah identitas gender, tapi membantu pasien mengeksplorasi masalah gender dan menemukan cara untuk mengurangi gejala atau dampak negatif yang ia alami.

Tujuan dari pengobatan ini yaitu membantu transgender dan individu dengan gender yang tidak sesuai menjadi nyaman dengan ekspresi identitas gender mereka.

Terapi ini juga memungkinkan kesuksesan dalam hubungan, pendidikan dan pekerjaan, serta membantu mengatasi masalah kesehatan mental lainnya.


Komentar

Postingan Populer